It is not chakra

15 10 2009




Shalat Khusyuk

6 04 2009

Assalmu’alaikum wr wb
A’udzubillahiminashaiythonirrojiim,
Bismillahirrohmanirrohiim,
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa’ala ali sayyidina Muhammad.

:” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Q.S.Al-Maa’uun 4-5).

Orang yang lalai disini adalah orang-orang yang tidak khusyuk dalam sholatnya.
Saya tidak akan memberi komentar mengenai khusyuk dari sisi saya
sendiri, karena dalam diri saya masih banyak kesalahan dan Ego, namun
akan mencoba sharing dari pengetahuan yang didapat dari para Ulama.
Saya ambil sedikit dari kitab tafsir Alquran Al-Iklil mengenai
Bismillahirrohmanirrohim, imam syafi-i berkata:” Tidak sah sholat
tanpa diawali niat terlebih dahulu sebelum sholat…..”. pembacaan
niat ini adalah pengukuhan niat ibadah, dan selama niat inilah kita
dituntun untuk bisa menyampaikan syukur kita dalam ibadah, syukur
karena Allah maha Pengasih lagi maha Penyayang sehingga diberi
kesempatan untuk menghadap Allah(sholat).  Niat ibadah dalam rasa
syukur inilah yang akan mendatangkan rahmat Allah sehingga dalam
sholat, kita bisa diberi kekusyukan.
Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra.:
Bahwa Nabi saw. mengerjakan salat sehingga kedua telapak kaki beliau
membengkak, lalu beliau  ditanya: Apakah engkau masih membebankan
dirimu dengan beribadah seperti padahal Allah telah mengampuni dosamu
yang terdahulu dan yang akan datang? Kemudian beliau menjawab: Apakah
aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur Nomor hadis dalam
kitab Sahih Muslim 5044

Maka sebelum sholat dianjurkan untuk menenangkan diri terlebih
dahulu untuk kemudian membaca niat, Urutannya ialah :
à 1. Ta’awudzà2.Basmalahà3. QS.Annasà4.Niat sholat.(jangan membaca
basmalah kemudian niat, basmallah harus dilanjutkan suratul Quran,
jika ingin mempercepat maka baca ta’awudz kemudian langsung saja
membaca niat}.

Khusyuk itu bukan dari kita, namun itu dari Allah SWT”.

Dari Kitab FafiruilaAllah: Syarat Khusyuk ada 5 perkara, dan 5 perkara
ini harus dipenuhi kesemuanya, 5 perkara ini adalah sebagai berikut:
1.    Sholat dilakukan tepat waktu
2.    Sholat tepat waktu dilakukan secara Istiqomah ( continue / berkesinambungan)
3.    Rutin melakukan Puasa Sunah.
4.    Menjauhi kemaksiatan
5.    Makan makanan yang halal.

Yang pertama-tama dipertanyakan terhadap seorang hamba pada hari
kiamat dari amal perbuatannya  adalah tentang shalatnya. Apabila
shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya
buruk maka dia kecewa dan merugi (Hr.Annasa’i dan Attirmidzi)

Beberapa nasihat yang saya rangkum dari ahlul hikmah

:” setelah selesai sholat janganlah langsung beranjak pergi, duduklah
sebentar untuk berdzikir dan berdo’a,  karena jika sesudah sholat
beranjak pergi tanpa dzikir dan do’a maka baginya sama hal dengan
kera”.

:” jika jualan rokok tidak laku, maka kamu bisa jualan beras, demikian
pula jika kamu sholat, maka berdikirlah sesudahnya, karena hal itu
untuk menutup kekurangan atas sholatmu.”

Tiba-tiba saya ingin menulis mengenai bai’at, padahal pokoknya
mengenai sholat dan khusyuk. Namun apalah daya, jika saya tidak
menulisnya, maka tidak tenang rasanya hati ini.
Bai’at adalah kesempurnaan beragama, karena para sahabat juga
berbai’at kepada Rosululloh SAW.
Sekarang ini  sepeninggal Rosululloh SAW, Bai’at tetap dilakukan
kepada pengganti Baginda Nabi Muhammad SAW yaitu para ulama terutama
yang mursyid, yang memiliki jalur dari guru-guru menuju Baginda Nabi
SAW.
Dari abu abdurrahman bin auf bin malik ra, ia berkata; Kami sedang
duduk-duduk bersama rasulullah saw, waktu itu kira-kira berjumlah
sembilan , delapan atau tujuh orang , kemudia beliau bertanya”Apakah
kalian tidak akan berbai’at  (berjanji setia) kepada rasulullah ? ;
padahal kami baru saja berbai’at ; maka kami menjawab; bukankah kami
telah berbaiat kepada engkau wahai rasulullah ?? beliau bertanya lagi;
“apakah kalian tidak akan berbaiat kepada rasulullah saw ? kemudian
kami mengulurkan tangan  dan berkata; kami telah berbaiat kepada
engkau, maka dalam hal apakah kami harus berbaiat ? beliau menjawab ;
kalian harus menyembah Alloh, Zat yang maha esa dan kalian tidak boleh
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, Salat lima waktu, serta harus
senantiasa mendengarkan dan mentaati segala perintah-Nya, dan beliau
berbisik “Janganlah kalian meminta-minta sesuatu pun kepada sesama
manusia” setelah itu , sungguh saya telah menyaksikan , bahwa salah
seorang di antarakemlompok ini, ada yang cambuknya terjatuh dan ia
tidak mau meminta kepada seseorang untuk mengambilkan cambuknya  (HR
Muslim ).

Maka jika ingin bersungguh-sungguh dalam beragama, lakukanlah sholat dan bai’at.
Siapa saja yang membaca tulisan ini insyaAllah mengetahui Maulana
syech Nazim & Maulana Syech Hisyam, maka beruntunglah yang sudah
melakukan bai’at kepadanya.
Cintailah beliau, jika sudah mencintai, akan mudah untuk mengikuti.
Bertemunya cinta kepada Rosululloh SAW adalah cinta  kepada para pewarisnya.

Ditanah jawa ini banyak para wali, jika cinta kita terbalas oleh MSN /
MSH, maka akan sangat mudahlah kita bertemu dengan para wali-wali
tersebut.
Para wali ditanah jawa ini melakukan pertemuan setiap bulan sekali,
jadi sebenarnya para wali itu tetap satu, tidak ada wali kanan ataupun
wali kiri.

Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram.

”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok. Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya.

Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.

Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun. (Agus Fathuddin Yusuf-46)

Billahi Taufik…Al-Fatikhah.
Wassalamu’alaikum wr wb





Adab

23 03 2009

Sebuah hadits berbunyi: “Tuhanku mengajarkan aku semua tata krama yang baik.” Dalam Islam, tata krama dikenal sebagai ‘adab,’ dan dia yang memelihara adab akan membuahkan sifat yang baik. Sifat ini akan meresap dan terpancar melalui keberadaan orang tersebut, bagaikan sebuah bejana tanah liat. Merupakan sunnah bagi seseorang agar memelihara adab Rasulullah (saw). “Seseorang boleh saja berbuat kesalahan,” ucap Grandsyeh kita, “namun bila ia menjaga tata krama yang baik, Rasulullah (saw) akan campur tangan untuk dia. Oleh karena itu, tata krama yang baik merupakan satu cara bagi seseorang untuk mendapatkan syafa’at.”





Divine Wisdom

14 03 2009

randsyeh kami berkata, “Allah menyukai hamba-hambaNya yang patuh, tidak bebal dan berwatak keras. Dia tidak pernah menyukai hamba-hambaNya menjadi keras kepala.

“Ini karena watak Setan termasuk watak keras yang pertama,” kata Syeh Nazim, “dan, siapa saja yang berada di jalan Setan akan menjadi Setan juga!
“Grandsyeh kita juga mengatakan bahwa tanda seorang yang tidak berwatak keras yaitu bahwa dia menyimak dengan sikap hormat terhadap setiap orang. Jelas? Ketika seorang menghormat orang lain, dan menyimak mereka, terlepas apakah mereka muda, tua, atau apa saja, Allah yang Maha Kuasa menjanjikan akan memberikan kepada hamba tersebut pengetahuan, hikmah, dari ucapan orang. Inilah kerendahan hati – menjadi lembut. Mengerti? Kamu bisa mendapatkan, dari kata-kata mereka yang kamu dengarkan dengan sikap hormat, sesuatu yang bermanfaat bagimu. Ini pahala karena bersikap lembut. Inilah adab yang baik, dan juga satu sifat yang amat tinggi. Kita harus menyimak, karena sebagaimana Hadits menyampaikan: ‘Kamu bisa mengambil hikmah, bahkan dari anak-anak kecil, dan mereka yang kamu anggap gila!” Pengetahuan Ilahiah: menghormati semua dan mendengarkan semua. Kamu akan ‘ribhan’ memperoleh manfaat. Bagus? Siapa yang keberatan dengan hal ini? Tak seorangpun keberatan.
Satu pertanyaan: “Syen Nazim, anda pernah mengatakan bahwa jika anda pergi bersama orang-orang berwatak buruk, anda akan membawa beberapa sifat buruk itu bersama anda. Sama halnya, jika anda bersama orang-orang berwatak baik, anda akan mengambil beberapa dari sifat baik tersebut.

“Betul.” tegas Maulana.

“Jadi, jika itu benar, bukankah berbahaya mendengarkan orang?”

Sang Syeh berbicara, “Menyimak berarti bahwa kamu boleh mendengarkan kata-katanya saja. Saya tidak menganjurkan bahwa dengan menyimak, kamu harus ikut! Maksud saya mengatakan bahwa dengan menyimak kamu bisa mengambil pelajaran dari kata-katanya. Bahkan bila seorang berbicara kata-kata yang buruk, kamu bisa mengambil sesuatu. Kamu bisa melihat betapa buruknya berbicara perkataan yang kotor. Kamu bisa belajar untuk tidak berkata-kata  kotor dengan menyimak orang-orang yang mengucapkannya.

“Ini membuat saya agak takut,” jawab seorang murid, “karena kadang-kadang anda menyimak orang berbicara, dan mereka langsung menjebak anda masuk.”

Nasihat yang lain, “Kamu harus mengamati. Kamu harus menjadi pengamat yang baik.”

Murid pertama melanjutkan, “Mereka sangat menggoda dengan ucapan mereka, dan, saat anda menyimak, anda mendapatkan diri anda mulai mengikuti mereka. Anda tidak menginginkannya, tapi anda tidak memerhatikan, saya rasa…”

Syeh Nazim menjawab, “Jangan takut akan hal itu. Kamu harus menyimak dengan tujuan mengambil sesuatu yang bermanfaat dari kata-katanya. Jika kamu bisa mendapatkannya, itulah keuntunganmu. Jangan menolak ucapan seseorang. Bila kamu mendengarkan dengan sikap hormat, Allah yang Maha Kuasa akan memberikanmu pengetahuan dari ucapan orang itu.

“Maulana, ada sebuah ayat, saya tidak ingat dengan pasti, tapi dikatakan bahwa jika orang duduk dan berbicara buruk tentang Islam, anda harus pergi. Anda hanya boleh kembali saat mereka mengganti topik pembicaraan.”

“Betul,” jawab Syeh, “kamu belajar dari kata-kata buruk mereka bagaimana orang membuat diri mereka sendiri tidak terhormat dan kotor. Kamu harus melihatnya, dan kemudian pergi. Kamu akan mendapatkan keuntungan.

“Sebaliknya,” Syeh Nazim melanjutkan, “ketika suatu kelompok orang sedang duduk demi Allah dan RasulNya (saw), tangan Tuhan kita meliputi orang-orang itu, melindungi mereka. Ini diajarkan kepada kita oleh Rasulullah (saw). Kita, contohnya, sedang duduk di sini dalam pertemuan yang seperti itu. Di sini, di sekeliling kita tangan Allah yang Maha Kuasa melindungi kita. Kita sedang duduk di bawah perlindunganNya. Oleh karena itu, Grandsyeh kita berkata, “Jika ada bahaya, atau peristiwa berbahaya terjadi, maka cepatlah duduk di suatu tempat dalam satu kelompok dan melakukan doa, zikir, shalat, atau membaca Qur’an. Kelompok itu akan berada di bawah perlindungan ilahiah.

“Selama perang akan ada peristiwa-peristiwa besar, peristiwa mengerikan, dan keadaan yang amat sulit. Pasti ada dua atau tiga (atau lebih) berkumpul sebagai kelompok melakukan shalat. Maka, tak ada rasa takut bagimu; tak ada bahaya datang kepadamu.”

Seorang murid bertanya, “Apakah harus berada dalam satu kelompok? Tidak bisa hanya satu orang?”

“Sudah dijanjikan untuk satu kelompok,” ucap Syeh. “Untuk dua, atau lebih; jika mereka sedang duduk (untuk kepentingan Allah), akan ada perlindungan tersendiri. Ini sangat penting. Jika pertemuan itu demi kepentingan Allah dan RasulNya (saw), akan ada perlindungan.

“Grandsyeh kita juga mengatakan bahwa, ‘Saat satu kelompok sedang duduk demi kepentingan Allah dan Muhammad (saw), maka Allah yang Maha Kuasa akan memberikan mereka sesuatu – satu pengetahuan Ilahiah yang muncul dalam pertemuan tersebut, satu yang mana semuanya bisa mendapatkan manfaat. Akan ada inayah – pertolongan Ilahiah dan penjagaan bagi mereka.

Pertemuan ini akan menjadi pertemuan suci, dan Allah akan mengirimkan mereka pertolongan IlahiahNya, dan rahmat, dan perlindungan, dan juga pengetahuan Ilahiah. Ia akan muncul dalam pertemuan itu untuk menuntun mereka dari semua tempat-tempat berbahaya dan membawa mereka menuju Kehadirat Ilahiah. Ia akan menjadi perlindungan dari bahaya kehidupan, dan bahaya pada Hari Kebangkitan juga. Begitu banyak kelompok yang akan duduk demi kepentingan Allah dan RasulNya (saw); mereka mungkin berada di bawah perlindungan Ilahiah, di sini dan sesudahnya. Hanya orang-orang yang berwatak keras tidak bisa mendapatkan manfaat tersebut. Oleh karena itu, kalian harus berusaha membuat pertemuan secara berkala, untuk acara apapun.”

Seorang murid berkomentar, “Tapi tidak secara umum!”

Maulana keberatan, “Kenapa tidak secara umum? Kamu bisa melakukannya di mana saja. Jika orang datang untuk mendengarkanmu, dia tidak dilarang!”

“Saya ingat, suatu kali, anda membacakan silsilah di bandara London,” ucap seorang murid, “seorang dalam keramaian mendengarnya dan langsung datang – whoosh!”

Syeh Nazim tersenyum, “Ya! kamu boleh duduk di mana saja. Jika kamu berada di tempat umum, dan orang tertarik datang, jangan jauhi mereka! ‘selamat datang, selamat datang!’ Mengerti? Ini penting, karena, dalam pertemuan, ego kita datang dalam bentuk persahabatan. Pada awalnya, ego kita bersifat liar; dia tidak pernah suka bersama yang lain. Tapi pertemuan menjinakkan hewan yang liar; sifat liar pergi dan menjadi jinak. Ada rahmat yang datang. Ini akan menjadi daya tarik; mereka akan datang; bahkan satu boleh datang. Tiga kemudian menjadi lebih berdaya dibanding dua, betul!”





Selawat untuk Segala Macam Penyakit

14 03 2009

Syekh Hisyam Kabbani QS
(dari buku Reflecting of The Souls: Ramadan Suhba 2006)

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin, Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin

Penyembuhan terhadap penyakit ada di tangan para awliya Allah dan mereka dapat menyembuhkan penyakit apa saja, karena Allah SWT memberikan rahasia kepada Nabi SAW untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Dengan selawat penyakit apapun dapat disembuhkan. Dengan mengucapkan: Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad, tibil quluubi wal dawaa’ihaa wal `afiyyat al-abdaani wa syifa’iha. (ya Allah semoga Engkau menganugerahkan selawat kepada Sayyidina Muhammad SAW, sembuhkan hatiku dengan obatnya dan sehatkan badanku dengan obatnya.—dikenal dengan shalawat tib)

Nabi SAW adalah sumber dan inti dari proses penyembuhan, selawat kepada Nabi SAW adalah penyembuhan. Tulislah selawat itu dan ia akan menjadi penyembuh bagi segala macam penyakit.

Jangan khawatir, dengan kecintaan terhadap Sayyidina Muhammad SAW, Allah SWT akan menyembuhkan setiap orang yang sakit, dan dengan istaghfirullah Allah SWT menyembuhkan semua orang yang sakit.

Dan Iman atau keyakinan adalah sangat penting. Iman akan selalu menyembuhkan kalian. `Itiqaad (yakin) dengan apa yang diberikan oleh Syekh kepada kalian atau apa yang dikatakan oleh Nabi SAW mengenai pengobatan tradisional ala Nabi karena Allah SWT akan memberikan kesembuhan itu dan tubuh kalian akan mengeluarkan hormon sesuai dengan apa yang kalian fokuskan dan kalian akan sehat kembali.[]

Kutipan sohbet ini dimuat di Ahl Haq mingguan vol.1
terbit berupa lembaran setiap Kamis pada saat zikir.





Ya Ghulam! Bentuklah Pikiran Kalian sehingga Para Wali Dapat Membukakan Pintu-pintu Pengetahuan Surgawi

9 03 2009

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani qs
Hari Minggu, 28 September 2008

Burton, Michigan-Amerika Serikat

Diambil dari SufiLive.com


Nawaytul-arba’ in, nawaytul-‘itikaaf, nawaytul-khalwah, nawaytul-riyaadha, nawaytus-suluuk, nawaytul-‘uzlah lillahi ta’ala fii hadzal-masjid.

A’udzu billah min asy-syaitan ir-rajim.
Bismillahir- Rahmanir- Rahim. Ati’ Allah wa ati’ ar-rasula wa ulil-amri minkum

Apakah kalian dewasa atau masih anak-anak? [Anak-anak!] [Seorang anak muda berkata “Anak-anak”] . Selama mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, kalian berada dijalur kedewasaan. Jika tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW , kita berada dijalur anak-anak. Jadi, kalian pilihlah. Kalian ingin berada dimasa dewasa atau anak-anak. [Dewasa] [Masa dewasa]


Kekanak-kanakkan tidak lebih baik karena tidak ada tanggung jawab. Sedang kedewasaan terlalu banyak tanggung jawab. Namun jika ingin berada bersama Rasulullah SAW di dunya dan akhirat, kalian harus bersama oran-orang yang dewasa. Jika ingin bersama seluruh umat manusia yang lain -elemen normal yang umum-, maka jadilah anak-anak.
Jadi, wali mengajari para muridnya. Nasehat dari awliyaullah kepada para muridnya adalah mengatrol masalah daro ego kalian. Karena ego kita adalah punuk besar yang menempel pada punggung kita. Dan kita tidak melihatnya. Kita hanya melihat punuk orang lain saja.


Itulah mengapa pada satu hari, Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani
Qaddasallahu Sirrahu –beliau masih keturunan dari Rasulullah SAW dan salah satu wali utama dari thariqah Naqsybandi- berkata kepada para pengikutnya.
Ada seorang murid yang sering kali beliau beri kesulitan. Awliyaullah senang memberi kesulitan kepada satu atau dua orang muridnya –selalu. Awliyaullah terus memberi kesukaran pada murid mereka. Yang kalian bisa lihat hanya 2, 3, 4, 5 orang yang terus diberi kesukaran oleh awliyaullah. Itu artinya kalau mereka begitu dekat dengan sang Syaikh, begitu dekatnya sehingga sang Syaikh tenang sekali ketika “memberi kesulitan” dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kalau orang lain mungkin sudah kabur.


Jadi, satu hari beliau berkata kepada salah seorang muridnya bahwa sedang memberikan kesulitan kepada muridnya tersebut, “Aku ingin kau pergi ke pemakaman dan mengambil beberapa pelajaran.” Muridnya menjawab, “Sudah menjadi tanggung jawab aku, wahai Syaikhku!
Anda mengirim saya ke pemakaman, saya akan pergi ke sana.” Si murid pun berangkat ke pemakaman, berziarah bagi yang telah meninggal dunia. Dia mendapati pintu pemakaman terkunci. Dan ada seseorang yang sedang duduk diatas pintu pemakaman. Orang itu bertanya, “Oh! Apa yang Anda lakukan disini?” Si murid tidak menjawab, “Oh, tinggalkan aku sendiri!” namun bicara dengan adab yang baik, “Saya datang untuk berziarah.”

“Baiklah, silahkan masuk.”

Si murid berkata, “Pintunya tertutup.”

Orang tersebut menanggapi, “Tidak, pintunya terbuka.”

Dan pintu pemakaman terbuka. Orang tersebut adalah Sayyidina Khidr. Keduanya masuk ke dalam pemakaman dan makam pertama yang didatangi adalah makam seorang ulama berumur 85 tahun. Dan kalian tahu, saat ini apabila murid diberi suatu perintah oleh sang Syaikh, murid itu merasa dirinya bagaikan burung merak. “Sang Syaikh memberiku perintah sekarang, saya begini, saya begitu…lebih besar dari seluruh dunia.”


Kalian berdua.

“Nama saya Antar ibn Shaddad. Saya ke sini karena sang Syaikh memberi saya perintah.”

“Apa, sang Syaikh memerintahkanmu? Dia ingin memotong-motongmu. ”

Jadi, dia duduk dimakam, membaca Fatihah dan berdo’a. Orang yang dipagar berkata, “Jangan, jangan, jangan. Anda tidak perlu berdo’a.” Orang yang dipagar adalah Sayyidina Khidr namun si murid tidak tahu. Sayyidina Khidr berkata, “Jangan, Anda tidak perlu berdo’a. Orang tersebut sudah suci; dia meninggal dunia waktu masih kecil.”

Si murid menanggapi, “Tidak, Anda salah; umurnya 85 tahun.”

Sayyidina Khidr berkata, “Bukan, umurnya 2 tahun.”


Apakah yang akan kita lakukan bila hal itu terjadi? Kita akan mengutuknya dari ayah hingga ke seluruh nenek moyangnya. Jika memegang sebilah pisau, kita akan menusuknya. Si murid berkata, “
Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim” lalu berkata lagi, ” Sudahlah, saya akan melanjutkan ke makam berikutnya.” dan makam itu sangat bagus, dihiasi dengan 2 buah nisan dan tanaman hijau yang sangat indah.
Seperti Sunnah Rasulullah SAW.

Kemudian si murid melihat nama seorang wali yang meninggal di usia 75 tahun. Sayyidina Khidr berkata, “Orang itu seperti yang lainnya, namun yang ini sedikit lebih tua. Umurnya adalah dua setengah tahun.”

Kini, si murid tidak senang. Dalam hatinya terus bertentangan, haruskah dia berteriak atau tidak. [Dia berkata dalam hati:] “Tidak apa-apa. Syaikh mengutus saya untuk berziarah dan belajar. Biarpun mereka sangat tua atau pun baru berumur 2 tahun, bukan masalah.” Jadi, satu makam ke makam lain yang terlihat dan orang misterius itu terus memberitahu kalau tidak seorangpun dari mereka mencapai kedewasaan. Umur tertinggi mereka adalah 9 tahun. Sehingga, murid itu tidak ingin berargumentasi. Dia pun kembali ke Syaikhnya.


“Apakah kamu sudah berziarah?”
Na’m ya sayyidii. Saya telah berziarah kepada semua ulama ini dan memperoleh banyak pelajaran.”


Dan siapa yang ada disana? Duduk disamping sang Syaikh -Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani
Qaddasallahu Sirrahu– dan menyelubungi dirinya sendiri duduk disamping, turut mendengarkan tapi menyelubungi dirinya.

Kemudian Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani Qaddasallahu Sirrahu bertanya lagi, “Apakah kau bertemu dengan orang lain disana?”

“Ya, saya bertemu seseorang. Namun saya tidak mengerti apa yang dikehendakinya. ”

Sesaat kemudian Sayyidina Khidr menampakkan dirinya ke si murid. Si murid berteriak, “Ini dia orangnya! Tangkap dia sebelum melarikan diri. Dia menyulitkan saya. Dia telah berkata kalau tiap wali umurnya 2, 3, 4, 5 tahun padahal mereka semua berumur 65, 75, 85 tahun.”

Kemudian Sayyidina Khidr berkata kepada sang Syaikh, “Oh Abdul-Khaliq al-Ghujdawani, murid itulah yang terburuk yang pernah aku lihat sepanjang hidupku. Dia tidak punya satu kearifan pun. Aku memberitahu umur mereka dan dia tidak mau mendengarkan apapun yang aku beritahukan. Dia sampah!”

Jika hal itu terjadi kepada kalian dihadapan Syaikh kalian, apakah yang akan kalian lakukan? Kalian akan berusaha membela diri. Namun mereka tidak mendengarkan pembelaan diri kalian. Jangan pikir kalian akan diberikan gula-gula dan permen saat di bay’at. Mereka akan memberi kalian Zaqqum. Lidah itu, ini dan yang lain dapat membuat kalian masuk ke dalam api neraka.

قال رسول الله : من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة.


Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga.”


Kemudian Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani
Qaddasallahu Sirrahu mulai mencerca murid tersebut dan berkata, “Wahai saudaraku, aku mengutusnya untuk memotong kayu dan ke pemakaman dan … agar dia tidak mengotori saudara-saudara seperguruannya yang lain. Dialah murid terburuk yang aku punyai.”

Mereka berdia mengutuk dan melihat ke dalam hati si murid, bagaimana hatinya mulai berubah. Ketika sang Syaikh dan Syaikh lain berteriak dan mempermalukan kalian didepan banyak orang, matilah kalian. Keraguan-raguan mulai masuk ke kalian dan kau berkata, “Saya tidak melakukan apa-apa. Mereka ingin menyalahkanmu atas sesuatu yang tidak kamu lakukan agar dapat membuka pintu kesabaran bagi kamu.”

Inilah bagaimana cara mereka membukakan pintu surga kepada kalian. Inilah bagaimana mereka membukakan pintu-pintu pengetahuan. Mengapa orang-orang ini pergi ke atas –mengapa mereka menyebut para pendaki gunung? Mereka mendaki dan mungkin saja tewas diatas sana.


Mereka mendaki ke atas dan ke atas dan ke atas gunung.
Mereka tahu sulitnya namun mereka
They are going up and up and up on mountains and they know it is difficult but they like to go up in order that they say about them that they reached it. And how much difficulty they encounter to do that? And when they reach the top they will feel as if the whole dunya opened before them.

Awliyaullah punya gunung dan ingin kalian mendakinya untuk akhirat. Dan awliyaullah disana membukakan kepada kalian penglihatan- penglihatan yang tidak bisa kalian bayangkan. Dan kedua berteriak dan mengutuk si murid. Murid itu tidak mendengarkan apa-apa seakan-akan dia tuli. Hatinya terhubung kepada Syaikhnya. Hatinya tidak melihat Khidr atau bukan Khidr. Dia hanya melihat hati Syaikhnya dan cintanya kepada hati sang Syaikh. Dan mereka bedua terus memberikan saat-saat yang makin sulit sampai kemudian Rasulullah SAW muncul. Beliau berkata, “Cukup dan ini sudah berlebihan. Jika kalian memotongnya sekalipun, cintanya tidak akan berubah. Berilah dia apa yang menjadi miliknya.”


Inilah bagaimana awliyaullah “membangun” kalian. Awliyaullah tidak ingin “membangun” kalian pada ego diatas ego. Jika awliyaullah “membangun” kalian diatas ego, maka akan gagal.


Para kontraktor membangun gedung menggunakan baja dan semen. Jika tidak, gedungnya akan merosot. Mereka tidak ingin membangun kalian pada ego diatas ego. Kemudian tembok dari gedung akan berjatuhan. Jadi dia berkata, Ya Ghulam! Kalian semua melihat murid mengenakan turban. Turban yang mereka pakai semuanya besar. Kalian lupa dengan seluruh laki-laki tua ini yang berumur 85, 95 tahun. Mereka semua duduk bersama-sama dan menikmati suasana. Turut berfoto sambil tersenyum. Mereka semua ini berturban besar. Kita semua berturban besar.


Rasulullah SAW berkata, “Sudah, sudah. Selesai. Kau berikanlah apa yang menjadi miliknya. Tidak ada lagi ego, hatinya terhubung kepadamu. Itulah mengapa mereka berkata, “
Ghulam, ghulam.” Jangan pikir kalian telah menc
apai tingkat tertinggi, kalian masih anak-anak. Kita masih ditingkat kanak-kanak.


Oh ghulam! Jika kalian tidak membawa Islam –pada basis yang sesungguhnya- , tidak membawa iman dan tidak membawa ihsan -Islam adalah kerangka dasar dari 5 rukun-, maka selama berjuang didalamnya kalian adalah ghulam, kalian tidak bisa lebih tinggi dari tingkat tersebut. Jika tidak mempunyai Islam dalam hati kalian, dihati kalian tidak ada iman. Jika tidak ada iman dalam hati kalian, maka tidak ada kesempurnaan dalam hati kalian. Jika tidak ada iman, maka tidak ada ma’rifat dalam hati kalian. Jika Islam kalian sempurna sepenuhnya, maka artinya kalian berserah.

Orang ini setiap hari memberitahu temannya untuk hadir disini pukul 4:30. Pukul berapa dia datang? 4:45. Akhirnya, satu orang ini angkat kaki. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dia datang tanpanya. Orang ini adalah ujianmu di bulan Ramadhan. Jika pasrah, kalian akan memperoleh milik kalian.


Mereka tidak melontarkan pertanyaan kepada kalian selama bulan Ramadhan dan membiarkan kalian mengeluh dan mengeluh dan mengeluh karena mereka ingin memberi ganjaran kepada kalian. Namun kalian tidak sanggup menjaganya. Minggu kemarin kalian selesai. Kalian memiliki letupan dalam diri kalian.
Kalian kehilangan milik kalian. Orang ini sangat dekat dengan saat-saat Mawlana akan membuka hatinya. Mereka mengirim orang ini sebagai sebuah ujian kepada kamu. Dan jika orang itu sabar terhadap kamu dan datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, maka dia akan memperoleh apa yang menjadi miliknya. Namun kalian berdua kehilangan hal itu. Mereka menjadikan kalian malas untuk memperolehnya …

Kalian lihat bagaimana awliyaullah bekerja. Awliyaullah menggunakan cara-cara yang licin. Dia tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Dia datang dengan bahagia, mengeluh tentang kami. Dan yang satu bahagia karena menganiaya yang lain.Jadi, mereka berdua tersesat. Ini hanya sebuah contoh. Berhati-hatilah, kalian tidak tahu dimana mereka bersembunyi dari kalian, bisa dibelakang pintu dan … Itulah mengapa -oh ghulam– jangan pikir menggunakan nalar. Sampai awliyaullah membangun nalar kalian.


Wa min Allah at-taufiq, bi hurmatil Fatiha.





Dunia yang Tak Bernilai, Kertas yang Tak Bernilai

7 03 2009

As-Sayyid Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi.
Sohbet, Jum’at 30 Januari 2009, setelah Sholat Jum’at dan Hadrah di
Zawiyah
Cyprus, Lefke.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itulah terjemahan pendek dari Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim. Seluruh Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim, kalau kalian mencoba memahami arti yang terkandung dalam ayat Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim: “Meskipun seluruh samudra dijadikan tinta dan seluruh pepohonan dijadikan pena-pena, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan samudra-makna dari Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim. Kita hanya bisa mengucapkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang dipahami orang awam, itupun terjemahan yang pendek: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian mau mendengarkan untuk kemudian melaksanakan.

Semua Nabi dan Rasul diutus guna mengajarkan jalan hidup yang benar kepada umat manusia. Jalan yang benar artinya yang membawa umat manusia mencapai surga, dan kehidupan surga mengantarkan manusia menuju Hadirat Ilahiah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia sekarang, sudah lupa akan hal ini. Di zaman sekarang ini, seluruh bangsa dengan seluruh penduduknya di setiap negara, mereka semua hanya mengharapkan kehidupan dunia agar punya uang lebih banyak dan menabung uang lebih banyak. Subhanallah. Dan mereka itu menabung triliunan atau kuadriliun dalam dolar, euro [Maulana batuk ..], lalu apa yang terjadi?
Keuntungan apa yang mereka peroleh? Hah? Kalian mulai mengerti…
Kalian sudah tahu bahwa sejak 5 atau 6 bulan terakhir ini terjadi krisis. Krisis ini mengguncang dunia dan membuat resah manusia di muka bumi ini. Sekarang, mereka sudah putus asa dengan uang yang mereka tumpuk selama ini. Mereka mengeluh, “Oh, semua uang kami baru saja habis!”

Kesalahan besar bangsa dunia setelah perang dunia pertama adalah dihapusnya emas sebagai alat-tukar, padahal emas mempunyai nilai riil di dunia dan akhirat.
Orang sekarang menghapuskan emas dan menggantinya dengan uang kertas.
Orang zaman dahulu tidak pernah memakai uang kertas. Orang zaman sekarang menganggap orang zaman dahulu tidak tahu apa-apa. Tetapi, orang zaman dulu mengetahui nilai riil dari emas dan perak. Sejak 1920 ditariklah penggunaan emas dan mulai memakai kertas yang dituliskan diatasnya angka-angka, seolah kertas ini benda penting. Sekarang orang yang menumpuk uangnya baru menyadari apa yang mereka perbuat: “Kita selama ini menumpuk kertas yang dituliskan di atasnya angka-angka, kita ini sangat bodoh.” Bagaimana bisa mereka mengganti nilai riil
emas menjadi kertas? Ya. Seluruh kerajaan dan para rajanya dan juga dinasti Utsmaniyah yang terakhir, yang membawa Bendera Sayyidina Muhammad SAW [Maulana Syaikh Nazim berdiri, lalu berkata ..]. Kalian harus berdiri ketika Nama Suci beliau disebutkan.

Itulah adab dalam Islam, yakni mengungkapkan sebanyak mungkin rasa hormat dan memuliakan Penutup para Nabi dan Rasul, dimana semua yang tercipta diperuntukkan bagi beliau SAW, dan untuk kehormatannya SAW Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لو لاك ما خلقت الأفلاك

Law laaka law laaka ma khalaqtu al-aflaaq – Jika tidak untukmu (Ya Muhammad) Aku tidak akan pernah menciptakan makhluk. Hamba-Ku yang paling mulia dalam Hadirat Ilahiah Ku adalah Muhammad SAW, dialah hamba-Ku. Allah Subhanahu wa Ta’ala boleh mengatakan “Muhammad”, tapi kita semua harus memanggil beliau “Sayyidina Muhammad”.

Kita harus menyebut nama Rasulullah SAW dengan “Sayyidina Muhammad SAW”.
Wahai manusia, Islam diturunkan untuk mengajarkan pada manusia bagaimana mereka hidup. Bagaimana sikap mereka terhadap Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan juga bagaimana mereka harus bersikap kepada hamba yang paling dicintai dan dimuliakan Allah SWT, yang paling terhormat di Hadirat Ilahi. Sayyidina Muhammad SAW tidaklah seperti kalian. Tidak. Beliau berasal dari antara kalian, tetapi beliau tidak sama dengan kalian. Kalian berada di bawah permukaan bumi taht al-thara, sedangkan beliau berada di Surga di Hadirat Ilahi, sangatlah tidak
mungkin bagi siapapun mencapai maqam itu. Beliau adalah hamba yang paling dihormati dan dimuliakan di Hadirat Ilahi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata pada Sayyidina Musa (as) – Ya Musa! innii ana Rabbuka fakhla’ na’layka; innaka bil waadil muqaddasi thuwaa.

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

“(Ya Musa), sungguh Aku adalah Tuhan-mu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah Thuwa yang suci.”

[QS Thaha (20):12]

Ketika Sayyidina Musa (as) mendengar suara dari surga melalui sebuah pohon, beliau mengejar suara itu, tapi segera terdengar lagi perintah, “Ya Musa, lepaskan dulu alas kakimu, baru datang mendekat kepada-Ku!
(Namun) di peristiwa lain, ketika malam Mi’raj, Sayyidina Muhammad SAW naik mencapai Singgasana Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian (dengan penuh
adab) beliau bergegas menanggalkan alas-kaki beliau dan mendekati Singgasana Allah hanya dengan kaki suci beliau (tanpa alas). Dan seperti inilah bentuk sepatu Rasulullah SAW. [Maulana Syaikh Nazim menunjuk pada bros, hiasan pada turban beliau, yang berbentuk sepatu-sandalnya Rasulullah (s), na`l  ash -sharif].

Rasululllah SAW segera melepaskan sepatu beliau, tapi datanglah perintah Ilahi: “Tidak perlu kau membuka sepatumu! Pakailah masuk ke Singgasana Suci-Ku. Merupakan kehormatan bagi Singgasana Suci-Ku dengan masuknya kamu kedalamnya! Peristiwa ini disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Lama, dan Kitab Suci Al Qur’an. Nah, orang zaman sekarang mengira para Nabi dan Rasul diturunkan untuk menjadikan mereka hamba dunia, untuk menjadikan mereka kolektor emas dan perak. Apa yang akan kalian perbuat dengan yang dikumpulkan itu? Kehidupan dunia ini datang dan pergi dan menyaksikan kehidupan para Fir’aun.

Begitu banyak Fir’aun (Pharaoh). Fir’aun-fir’ aun itu menumpuk berton-ton emas dan mereka membuat wasiat kalau kelak mereka mati dikuburkan bersama emas yang mereka kumpulkan. Sekarang, apa yang terjadi setelah ribuan tahun? Tidak seorangpun yang sanggup masuk ke kuburan fir’aun itu dan melihat ada apa di dalam piramid-piramid itu. Mereka ingin melihat mummi-mummi fir’aun. Kalian hanya bisa melihat bentuk peti mati fir’aun-fir’ aun itu. Kalau dibuka dan melihat isi di dalamnya, kalian akan lari. Mungkin beberapa malam kalian tidak bisa tidur
terbayang betapa buruknya mumi-mumi itu seperti Ramses, Tutankhamen, dan banyak fir’aun-fir’ aun lainnya. Kalian tidak bisa melihatnya, tidak ada manfaatnya. Fir’aun-fir’ aun itu menumpuk harta dan menyembunyikan harta karunnya dalam kuburnya, harta-harta itu tidak bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا
فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Walladziina yaknizuunadz dzahaba wal fidhdhata wa laa yunfiquu naahaa fii sabiilillahi fabasysyir hum bi adzaa bin aliim
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar kepada mereka, “bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. [QS at-Taubah (9):34]

Itulah syaithan yang membuat manusia bekerja untuk dunia, bukan hanya hamba dunia tapi “budak dunia”. Dan di abad-21 ini, umat manusia, termasuk umat dunia Islam, mereka semua tidak bersikap sebagai hamba Tuhan Yang Menciptakan mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka malah berupaya menjadi budak-budak dunia. Mereka berada di bawah komando/kendali syaithan. Syaithan, dalam bahasa Inggrisnya Satan.
Sekarang seluruh umat manusia di dunia termasuk dunia Islam menjadi budak-budak dunia. Dan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW berkata bahwa setiap hari syaithan datang dan berteriak, “Hai manusia, aku punya anak perempuan! Aku ingin menjadikan salah satu dari kalian menjadi menantuku! Siapakah yang menerima? Syaithan tiap hari datang dan berkata pada manusia, “Aku punya anak perempuan cantik dan aku ingin mengawinkannya dengan salah seorang dari kamu.” Manusia bertanya,”Bagaimana caranya?” Setan menjawab, “Barang siapa yang hari ini membuatku senang dengan menjadi budakku, maka aku akan menjadikan anak perempuanku tercinta menjadi istrimu.”

Apakah “anak perempuan setan” itu? Yaitu “dunia”. Seluruh manusia sekarang berusaha menjadi menantu setan! Sangat disayangkan, kasihan, kasihan.

Dan dunia ini tidak ada nilainya. Berapa nilai seluruh dunia ini di hadapan Hadirat Ilahi? Rasulullah SAW –Sayyid ar-Rasul il-kiram- bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman “Kalau dunia ini bernilai sekeping sayap nyamuk saja, maka Aku (Subhanahu wa Ta’ala) tidak akan memberikan rizki kepada mahluk yang tidak mengaku sebagai hamba-Ku”. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap saja memberi. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi. Tapi pada akhir kehidupan manusia, apa yang
terjadi? Saat itu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berkata pada manusia, “Inilah saat
terakhir hidupmu, kamu boleh mengambil lebih banyak lagi dari dunia ini. Meski kamu punya lebih banyak harta dibandingkan Qarun sekalipun, tetap pada akhirnya Qarun pun mati, begitu juga kamu kini mati.” Seluruh umat di dunia sekarang tidak menerima sebagai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pencipta [Maulana Syaikh Nazim berdiri], Allah Ta’ala, Jalla Jalaluhu. Meskipun kita berdiri seperti ini  sampai akhir hidup kita, belumlah apa-apa, kita semua hamba-hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai umat Islam, kita sekarang ini berada di zaman jahiliyah yang kedua. Zaman kebodohan kedua. Zaman kebodohan pertama terjadi pada masa Sayyidina Rasulullah SAW dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada Rasulullah SAW tentang zaman jahiliyah itu, “Wahai hamba yang Aku cintai, Aku mengutusmu untuk membersihkan diri hamba-hamba- Ku, agar mereka membuka akal dan hatinya untuk mengetahui Siapa Yang Menciptakan mereka, dan tanyalah tentang amal perbuatan mereka, pikirkanlah dari apa mereka diciptakan, dan apa yang diharapkan Yang Maha Pencipta dari mereka.”
Sekarang seluruh umat manusia mencapai zaman jahiliyah kedua. Tidak ada seorangpun yang membicarakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan. Bangsa Arab tidak melakukannya. Tidak Turki, tidak Iran, tidak Rusia, tidak Amerika, tidak Afrika, tidak juga dari bangsa di timur dan di barat.
Saya tidak pernah mendengar orang berlari dan berkumpul di jalan-jalan dan saling bertanya: “Apakah sebenarnya yang diperintahkan Allah (kepada kita)?”.

(Mengapa sekarang) orang-orang berlarian ke jalan-jalan dan melakukan demonstrasi? Siapa yang pernah melihat demonstrasi dalam Islam sebelum ini? Apakah dulu masyarakat negara-negara Muslim juga keluar ke jalanan dan berteriak-teriak? Di ayat mana dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah mengizinkan demonstrasi di jalan-jalan itu?? Atau di hadis yang mana pernah ada perintah berlarian ke jalan-jalan? Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata, “Datanglah kepada-Ku, datanglah kepada-Ku.” Dan “Masaajid buyuut Allah.” Masjid-masjid adalah rumah-rumah Allah. Hai orang-orang Arab, betul kan? Mereka tahu bahasa Arab? Mereka tahu tapi tidak paham – seperti saya ini (Maulana merendah), saya tahu bahasa Arab tapi tidak memahaminya. Siapakah ‘alim ulama dari barat ke timur, dari negara Arab atau non-Arab yang dapat mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya berlarian ke jalanan, pria dan wanita berteriak-teriak di jalanan? Dimana masjid-masjid mereka?

Masjid-masjid adalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau sesuatu yang buruk
terjadi maka masuklah kalian ke masjid dan berdoalah. Apakah yang kalian minta? Ini hari Jum’at. Terdapat ribuan masjid di banyak negara tempat bagi orang yang sholat dan berdo’a. (Daripada berada di luar) yang seorang berteriak “Oh Palestina”, tapi yang lain berteriak lain lagi. Apakah yang terjadi atas umat Muslim ini sehingga membuat demo-demo di jalanan? Apakah ada syariat Islam yang memerintahkan
berdemo? Kepada siapa kita berteriak di jalan-jalan itu? (siapa yang mendengarkan? )

(Makanya) kalian harus datang ke masjid-masjid dan berdoalah, “Wahai Tuhan kami, selamatkanlah diri kami karena kami ini sangatlah lemah. Karuniakanlah Rahmat-Mu kepada orang-orang yang beriman, turunkanlah pertolongan- Mu pada hamba-hamba- Mu yang berupaya mencari Ridho-Mu …”.

Nah, (apakah do’a seperti barusan) diucapkan oleh orang-orang, pria dan wanita yang berteriak berdemo di jalanan? Khususnya kepada kaum perempuan, Allah SWT berfirman: Qa qurnafii buyuutikunna wa laa tabarrajal jaahiliyyatil uulaa, wa aqimnash shalaata wa aatiinazzakaa wa athi’nallaha wa rasuulahu ….


وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ
الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ
أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kalian berdiam di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti kaum jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, …” [QS al-Ahzaab (33):33]

Kalian (para Muslimah) harus menjaga diri kalian, beradalah di bagian terdalam di rumah-rumah kalian, jangan kalian berkeliaran di jalan-jalan. Perbuatan itu tidaklah Islami. Jangan lakukan itu. Kaum perempuan di Iran keluar ke jalanan.

Kaum perempuan Arab juga keluar dan berteriak-teriak. Kaum perempuan Turki juga keluar dan berteriak-teriak. Perempuan di Mesir juga keluar dan berteriak-teriak. Kemanakah para Syaikh di al-Azhar? Apa yang mereka katakan? Mereka takut kepada siapa? Kenapa tidak berani mengatakan kebenaran? Kalau mereka tidak berani mengatakan kebenaran, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menurunkan azab.

Janganlah takut. Kalau kita perlu takut, maka takutlah hanya kepada Penciptamu, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Nabi yang Suci SAW pernah berfiman:

ولن يغلب اثنا عشر ألفا من قلة

wa lan yaghlib min ummattii ithna `ashar alf min qillat [1] – Wahai Muslim, kalian tahu hadis syarif ini? Disebutkan, andaikan saja umatku, jika mereka hanya 12.000 orang saja, pastilah mereka mencapai kemenangan. Meski hanya dengan pedang, sudah cukup untuk mencapai kemenangan. (Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman): “Aku-lah Yang memberikan kemenangan, bukan sawaariikh, rudal-rudal kalian.” Jangan. Jangan tergantung kepada rudal-rudal kalian. Jangan. Ketika dua pasukan saling berhadapan siap saling serang, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di pihak yang sedikit maka tentara di seluruh duniapun akan kalah.

Tetapi keimanan kita saat ini ada di titik nol, makanya kita meminta ke sana-sini mohon pertolongan – “Bantulah kami melakukan jihad..”.
Itu bukanlah jihad. Itu bukanlah jihad. Bukan. Jihad itu untuk Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dan pihak yang ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menang. Meskipun hanya 3 orang muslim, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong mereka maka meskipun 3 milyar atau 30 milyar bisa dikalahkan. Kita harus mengubah cara kita. Kita harus meninggalkan prinsip-prinsip barat. Dunia Muslim harus meninggalkannya dan harus kembali kepada jalan Rasulullah SAW. Jika tidak, kita juga akan musnah.

Bukanlah hal yang sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala jika Dia ingin memusnahkan

milyaran. Dia (Subhanahu wa Ta’ala) bisa mengirimkan taufan banjir pada ummat Nabi Nuh (as), sehingga hanya 80 orang saja yang hidup. Dari hanya 80 yang
tersisa itu, sudah ada milyaran manusia lagi sekarang di dunia.
Karena, Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalian harus tahu siapa Allah Subhanahu wa Ta’ala – seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, Sayyidina Muhammad SAW kepada ummat. Kalau tidak, kalian akan menerima azab dari Allah. Sekarang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan azab yang sama kepada umat Muslim maupun non-Muslim. Umat Muslim juga terkena azab karena mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika Muslim tidak meminta petunjuk-Nya, maka diturunkanlah azab..

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن
فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً
وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ
لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah (olehmu Muhammad), “Dia-lah Yang Berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kami dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kami keganasan sebagian yang lain, bagaimana Kami Menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasan Kami) agar mereka memahaminya. ” [QS al-An’am, (6):65].

Aku (Subhanahu wa Ta’ala) pasti menurunkan azab apabila mereka tidak mau patuh
kepada perintah-Ku. Maka Aku turunkan Murka Ilahiah-Ku dalam bentuk azab dari langit ataupun azab dari bawah kaki mereka, atau membuat mereka saling menguji satu sama lain.

Rasulullah SAW pun kemudian memohon, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau
menghukum umatku sebagaimana Engkau mengazab orang-orang jahil dari umat-umat yang terdahulu.” Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menjawab, “aiklah Aku terima
permintaanmu (ya Muhammad (SAW)), tapi kalau mereka terus berada di jalan
yang salah, maka akan Aku hukum mereka. Aku buat ahzab -kelompok-kelompok- terdiri dari berbagai partai, mereka kemudian mulai saling membunuh di antara mereka.” Seperti yang terjadi pada Bani Israil karena mereka menyembah sapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazab mereka melalui sesama mereka. Mereka yang tidak menyembah sapi diperintahkan agar membunuh mereka yang menyembah sapi. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ
أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُواْ إِلَى بَارِئِكُمْ
فَاقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ
فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu (wahai orang-orang zalim). Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan Menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” [QS al-Baqarah (2):54]

Kalian harus memperbaiki langkah-langkah kalian, jangan sampai mengikuti langkah syaithan. Kalian harus mengikuti Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sohbet saya ini, terlaksana dengan pertolongan Ilaahi Rabbi, Tuhan Pemilik Surga. Semoga Dia memberi kalian umur sampai tahun depan atau sampai akhir dunia ini, tapi kalian harus mengambil inti dari sohbet saya ini bagian yang berharga (jawhar) ambilah, maka kalian akan selamat. Kalau tidak, kalian akan menerima azab. Kelompok yang kecil akan masuk Surga. Kelompok yang besar akan diadili nanti tergantung amal mereka. (Maka) jagalah diri kalian, berlarilah menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jangan mengikuti langkah syaitan. Berlarilah menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kita semua.

[Kemudian Maulana Syaikh Nazim Haqqani memimpin do’a]: “Ya Rabbi, kami ini pendosa besar yang memohon ampunan-Mu. Kami tidak sungguh-sungguh berupaya menjadi hamba-Mu yang tulus, kami menyia-nyiakan hidup kami, kami memohon rahmat suci-Mu agar Engkau mengampuni kami. Ya Rabbi, demi makhluk yang paling Engkau muliakan, Nabi dan Rasul yang paling dimuliakan oleh-Mu dan oleh Nabi dan Rasul yang lain, yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sayyidina Muhammad SAW. Ya Rabbii ‘afu anna wa aghfir lana wa’arhama wa tub alayna wa ba`ath lana sahib – maalik yahkum al-Islam wa kul ad-dunya min al-maghrib ilaa al-mashriq.
Turunkanlah seorang Sultan ya Rabbi, karena kami ini kehilangan arah.
Sultan dari Mu mampu membawa kami ke jalan yang benar menuju Engkau, sehingga kami datang menghadap-Mu dengan wajah yang bercahaya, tidak dengan wajah yang gelap. Amin. Amin. Amin. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni saya dan memberkahi kalian semua, demi kehormatan yang paling terhormat, Sayyidina Muhammad SAW. Fatihah!.

[1] Jami` as-Saghir