Tahun Penuh Peluang

23 02 2009

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Hari Kamis, 1 Januari 2009
Lefke, Siprus
Diambil dari SufiLive.com

[Dituliskan oleh Khairiyah Siegel]


Sebuah Pesan dari Mawlana untuk Kalian!

Au’dzu billahi min asy-syaitan ir-rajiim. Bismillahir- Rahmanir- Rahiim
Nawaytul-arbai’in, nawaytul-‘itikaf, nawaytul-khalwah, nawaytul-riyadha, nawaytus-suluk, nawaytul-‘uzlah lillahi ta’ala fi hadza’l-masjid

Ati’ Allahu wa ati’ur-Rasul wa ulu’l-amri minkum. Madad, ya Sayyidi, ya Sultanu-l Awliya, Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani.

Pertama-tama, saya ingin sampaikan bahwa Mawlana meminta dan memerintahkan saya untuk menyampaikan kepada kalian bahwa beliau mencintai kalian, merindukan kalian dan kalian semua selalu berada dihati beliau. Dan insya Allah, apabila cuaca membaik beliau segera bersama kalian seperti biasanya, selalu bersama dengan siapapun yang datang berkunjung dan memerlukan nasehat.

Kadang Awliyaullah sulit dipahami. Dimana pun kalian berada, dimanapun kedudukan kalian. Bertahun-tahun bersama Awliyaullah, namun masih saja sangat sulit memahami setetes makna seorang wali. Dan seperti diketahui, Rasulullah SAW biasa bercakap-cakap dengan para Sahabat. Memberi mereka hadis, dari ucapan, mengajari Sahabat, menyampaikan pesan Allah  SWT – melalui Kitab Suci al Qur’an dan melalui Sunnah Rasulullah SAW. Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa tidak seorang sahabipun – artinya tidak seorang sahabatpun yang mengetahui segala hal. Maksud “segalanya” yaitu seorang sahabi tidak selalu hadir di tiap kesempatan bersama Rasulullah SAW saat beliau memberikan nasehat atau ajaran. Itulah mengapa sekarang kita melihat banyak kita kumpulan-kumpulan hadis-hadis Nabi SAW. Seorang Sahabi mengatakan ini, Sahabat yang lain berkata itu… Sahabat yang itu mendengar itu dari Rasulullah SAW. Beberapa sahabat mendengar 10 buah hadis, beberapa lagi mendengar 20 hadis, yang lain mendengar 100, 1.000 buah hadis. Namun dalam dasarnya, mereka semua tidak mendengar semua hadis itu pada waktu yang bersamaan.

Itulah mengapa terkadang beberapa  Sahabat berkata: “Oh, kami tidak mendengar mengenai hal itu.” Mereka biasanya menggunakan argumen-argumen ini; saya tidak akan menjelaskannya dengan detil, namun mereka biasanya menggunakan argumen ini diantara mereka sendiri. Salah satu dari mereka berkata: “Aku tidak mendengar itu” atau yang lain berkata: “Tidak, aku mendengarnya,” dan yang lainnya berkata: “Tidak, aku tidak mendengarnya” atau yang lainnya berkata: “Tidak, aku mendengarnya .” Dan hadis lainnya. Hadis berubah dari satu ke yang lainnya, tidak semua dari Sahabat yang mendengarnya. Jika kalian mendengar sesuatu, saya tidak mendengarnya. Saya bisa saja memberitahu kalian: “Oh, saya tidak dengar tentang itu.” Kalian mungkin memberitahu: “Tidak, saya tidak mendengar tentang itu.”

Jadi, akan ada situasi seperti itu setelah masa Rasulullah SAW, dimana zaman tersebut masih ada para Sahabat. Dan zaman setelah Rasulullah SAW berulang, para Sahabat mengumpulkan hadis-hadis dan menyusunnya. Sebagai contoh. Misalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq menyebutkan 24 atau 25 buah ahadis. Itu saja. Sayyidina Abu Bakar tidak menyebutkan lebih dari itu, meskipun beliau sangat dekat dengan Rasulullah SAW.


Allah SWT menyebutkan dalam Kitab Suci al Qur’an mengenai Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq radiallahu anhu, firman-Nya:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Illa tanshuruuhu fa qad nasharahu Allahu idz akhrajahul ladziina kafaruu tsaaniyats naini idz humaa fil ghaari idz yaquulu li shaahibihii laa tahzan innAllaha ma’anaa fa anzalAllahu sakiinatahuu ‘alaihi wa ayyadahu bi junuudil lam tarauhaa wa ja’ala kalimatal ladziina kafarus suflaa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya wAllahu ‘aziizun Hakiim.
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At Taubah (9):40]

Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Abu Bakar, “Jangan bersedih, Allah bersama kita.” Dan berapa hadis yang Sayyidina Abu Bakar riwayatkan? Hanya  24 atau 25 hadis! Dimanakah hadis yang lain?

Nah, yang ingin saya katakan dan simpulkan adalah sangatlah sulit untuk memahami Awliyaullah. Kalian mungkin mendengar sesuatu; saya mungkin mendengar sesuatu. Tergantung pada waktu, dan pada saat dan kesempatan tersebut, dimana maqam awliyaullah, di tingkat kenaikan yang mana seorang wali dihadapan Rasulullah SAW saat ia memberikan suatu nasehat.

Jika kalian perhatikan hadis-hadis Rasulullah SAW, sebuah hadis membahas sesuatu hal, kemudian hadis lainnya turun dengan lebih rinci dan membahas hal yang tidak disebutkan di hadis yang pertama. Mengapa? Karena, sebagai contoh, pertama kali Rasulullah SAW menyampaikannya sahabat ada katakanlah di tingkat X. Dilain waktu, ketika Rasulullah SAW mengalami kenaikan yang makin tinggi maka beliau bicara dari tingkat Z. Jadi, dari tingkat ke tingkat akan mengalami kenaikan atau mungkin saja berubah. Tergantung pada waktu dan situasinya.

Sangatlah penting memahami Awliyaullah karena mereka adalah pewaris Rasulullah SAW. Bagaimana cara memahami Awliyaullah? Suatu saat Awliyaullah mengatakan sesuatu tapi diwaktu lain mengatakan hal yang sama tapi lebih mendetil atau mungkin awliyaullah mengubahnya. Lalu kalian mulai berpikir, “Oh, apa maksud beliau?” Orang lain yang mendengarnya perkataan yang berbeda berkata, “Oh, tidak. Maksud beliau adalah ini.” Itulah mengapa tidak semua orang dapat memahami seorang wali! Kita tidak dapat memahami Awliyaullah walau hanya setetes saja dari pengetahuan mereka.


Saya menghadap Mawlana Syaikh dan beliau berpesan, “Sampaikan cinta dan dukungan saya. Beritahukan kepada para murid mengenai cinta dan dukungan saya kepada mereka.” Jadi, apakah maksud perkataan beliau ketika beliau berkata, “Aku mencintai dan mendukun mereka”? Itu adalah sebuah samudera.

Allah SWT berfirman dalam Kitab Suci al Qur’an kepada para Penghuni Gua:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا

Wa idzi’ tazaltumuuhum wa ma ya’buduuna illAllaha fa’wuu ilal kahfi, yansyur lakum Rabbukum mir rahmatihii wa yuhayyi’ lakum min amrikum mirfaqaa.
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [Al-Kahfi (18):16]

Mereka berdebat, “Kemanakah kami harus berlari?” dan nasehat datang, “Larilah ke gua itu! Larilah ke gua itu!” Dalam gua itu Allah SWT akan mewujudkan Rahmat-Nya atas kalian. Tanpa memperhatikan apa yang sedang kalian lakukan, Allah SWT akan mengirimkan Rahmat-Nya atas kalian, Dia akan mengatur dan memperlihatkan pada kalian bimbingan-Nya, jalan-Nya.

Jadi, ketika Mawlana berkata, “Katakan kepada mereka bahwa aku mencintai dan mendukung mereka,” artinya kita berada dalam gua (perlindungan) beliau! Beliaulah gua kemana kita harus berlindung. Bagi kita, gua itu seperti kalian lihat di GoogleMaps, kalian ingin melihat langit atau ingin melihat gedung apapun di muka bumi melalui Google – apa yang kalian lakukan? Kalian mengeceknya: memberikan alamat dan kemudian diperlihatkan kepada kalian sebuah wilayah. Namun wilayah itu sangat luas, jadi kalian ingin memperbesarnya agar bisa melihat wilayah itu lebih dekat. Ketika Awliyaullah bicara dan kalian masuk ke dalam gua awliyaullah, jika memasukinya dengan kepercayaan penuh maka kalian bisa memperbesarnya. Karena Awliyaullah akan memperbesar kalian sampai ke hadirat Rasulullah SAW. Semakin banyak Awliyaullah memperlihatkan kepada kalian pembesaran itu, semakin dekat kalian mencapai hadirat Rasulullah SAW.

Tidaklah mudah memperbesar, sangatlah sulit. Seorang wali harus  bertanggung jawab atas semua muridnya agar dapat mendekatkan mereka ke hadirat Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW harus mengemban tanggung jawab dan kesulitan Ummat, agar dapat mendekatkan mereka ke dalam Hadirat Ilahiah. Ketika Mawlana Syaikh berkata, “Kirimkan cintaku kepada mereka,” artinya: Apabila seseorang mencintai orang lain, maka dia akan peduli terhadapnya. Jika kalian mencintai anak kalian, maka kalian peduli akan mereka. Kalian tidak bisa berkata: “Oh, saya mencintai anak saya” tapi ketika anak sakit, kalian berkata, “Saya tidak peduli.” Kalian akan menjaganya sepanjang malam. Dimata Awliya, kita adalah anak-anak. Meski kita berjenggot panjang, jenggot kita berwarna hitam, putih atau merah … Kita masih anak-anak dimata awliyaullah; Awliyaullah harus memikul masalah dan kesulitan kita.

Suatu saat, Grandsyaikh (semoga Allah merahmati ruh beliau) berkata bahwa Wali membutuhkan muridnya. Jika tidak ada murid, tidak ada wali. Beliau mengatakan hal itu untuk memperlihatkan seberapa berat memikul tanggung jawab. Beliau berkata, “Mengapa seorang wali menjadi wali, jika dia tidak punya murid? Murid menjadikannya wali… Allah SWT membuka hatinya –apapun yang mereka butuh untuk mendengar dan apapun yang mereka butuhkan- agar dapat bertambah baik dan terus maju. Itulah mengapa sangatlah penting bagi seorang wali kalau berbicara harus mencapai hati muridnya. Dan kita harus penuh perhatian karena beliau memikul kita; beliau sedang membuka hati kita. Jika tidak membuka hati kita untuk menerima beliau, kita berada dalam masalah. Bukan masalah bagi beliau, tapi kitalah yang akan bermasalah.

Sayyidina Abdul Qadir Jilani (semoga Allah merahmati ruh beliau), mempunyai seorang khalifah yang sudah tua. Beliau belajar dari
Sayyidina Abdul Qadir Jilani tentang kerendahan hati (tawadhu’). Karena dalam thariqah, hal terpenting adalah tawadhu’, rendah hati. Tawadhu atau rendah hati artinya kalian tidak memberikan kesempatan kepada ego kalian untuk merasa bangga atas diri sendiri. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tawadhu’. Apakah yang Allah SWT katakan mengenai beliau dalam Kitab Suci al Qur’an? Karena Rasulullah SAW sedang mencari Samudeta Pengetahuan yang Allah SWT telah bukakan kepada beliau pada malam Isra’ wa-l Mir’aj:

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Qul lau kaanal bahru midaadal li kalimaati rabbii la nafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa lau ji’naa bi-mitslihi madadaa
Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).
[Al Kahfi (18):109]

Ketika melihat Samudera Pengetahuan tersebut, beliau berujar:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Qul: Innamaa ana basyarun mitslukum yuuhaa ilayya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku …..” [Al Kahfi (18):110]

Rasulullah SAW berkata tentang dirinya sendiri: “Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu.” Beliau berbeda!

Sebagaimana Imam Busairi (riwayatkan) . Apa yang dia riwayatkan tentang Rasulullah SAW? “Bal huwa yakutatun wa naasu ka-l hajari – Beliau adalah sebuah permata tulen, sebuah berlian. Dan manusia lainnya bagaikan batu kerikil, bebatuan!”
Beliau berbeda sepenuhnya, namun beliau merendahkan dirinya. Beliau melakukan Isra’ wal-Mir’aj, beliau sudah menjadikan diri beliau lebih tawadhu’. Nah, tugas kita adalah saling memperlihatkan ke-tawadhu’-an.

Ini bukan hanya memperlihatkan ke-tawadhu’-an kepada sang Syaikh. Sangat mudah memperlihatkan ke-tawadhu’-an kepada Syaikh, namun sulit memperlihatkan kepada orang lain. Kembali ke khalifah dari Sayyidina Abdul Qadir Jilani. Kemana pun Sayyidina Abdul Qadir Jilani mengutusnya untuk berdakwah ke desa atau ke perkumpulan yang berbeda-beda, dia duduk dan bicara. Segera setelah dia membuka mulut untuk bicara semua orang mendengarkan. Mereka sangat… mata mereka terbuka lebar. Tidak seperti saya dan beberapa orang lain saat mendengarkan Mawlana bicara, kita malah tidur! Orang mengalihkan pikirannya ke hal yang lain… Namun semua orang mendengarkan khalifah itu bicara, bahkan kalau kamu melempar sebuah pin maka jatuhnya pin itu akan terdengar.

Syaikh itu mempunyai seorang putra. Putranya ini sangat terpelajar dalam Syari’ah Islam. Sang anak tahu tafsir Kitab Suci al Qur’an, tafsir dari hadis-hadis suci, hafal Kitab Suci al Qur’an, hafal hadis, tahu dengan detil Syari’ah. Dia melihat dirinya sendiri. Tiap kali Syaikhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri, duduk dan bicara. Semua orang mendengarkan dan sang anak berkata dalam hati, “Oh, coba kalau saya yang bicara? Tentu sajasaya lebih terpelajar dibandingkan ayah, lalu semua orang tidak hanya akan terbuka matanya tapi hatinya turut terbuka ketika mendengarkan ucapan saya dan semua orang akan menghargai apa yang saya katakan!”

Sang ayah mengetahui “penyakit” anaknya ini. Apa yang dia lakukan? Dia berkata, “Oh putraku! Aku sakit minggu ini. Minggu yang akan datang kau pergi dan bicaralah! Pergi dan berikan sebuah sohbet.” Dia sangat senang, tidak menyangka akan memberikan sebuah sohbet kepada banyak orang. Dia pun beranjak pergi dan duduk dikursi yang biasanya digunakan oleh sang ayah. Sedangkan sang ayah berada diruang lain, menyembunyikan diri, mengamati apa yang akan terjadi. Sesaat sang anak mulai memberikan sohbet –dia seorang ‘alim, seorang ‘alim besar pada zamannya –seperti sekarang bila kita menghadiri konferensi- saya sering menghadiri konferensi dan melihat orang seperti itu- profesor atau pembawa acara memberikan sebuah presentasi dan sebagian besar hadirin tertidur. Tidak seorang pun mendengarkan karena mereka merasa bosan. Nah, mengapa mereka bosan? Ada rahasianya disini.

Dan rahasia dalam cerita ini adalah meski sang anak seorang yang ‘alim, tapi tatkala dia mulai bicara, semua orang tertidur. Jadi, dia terus bicara dan melihat: sebagian besar pendengarnya tertidur. Dia sangat terkejut. Dia pun segera menyelesaikan sohbet dan menghadap kepada sang ayah. Dia bertanya: “Oh ayahku, apa yang terjadi? Saya lebih terpelajar dibandingkan dengan ayah, saya tahu lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Saat saya bicara, semua orang tidur. Ketika ayah bicara, semua orang terbuka mata dan hatinya. Apa yang terjadi?”

Sang ayah menjawab, “Oh putraku! Itulah permasalahan ulama saat ini (pada masa itu), kaum ulama sangat bangga akan diri mereka. Mereka sombong. Ketika aku duduk untuk memberikan sohbet, pesan yang sedang aku sampaikan kepada semua orang datang dari hati Sayyidina Muhammad SAW. Jadi, ketika bicara akulah pendengar pertama yang mendengarkan apa yang aku katakan. Akulah murid pertama yang duduk disana; aku tidak memandang diriku sebagai wakil dan aku tidak memandang diriku sebagai ‘alim; aku memandang diriku yang paling kurang diantara semua orang, yang terendah diantara mereka. Itulah ke-tawadhu’-an yang harus dipraktekkan saat kau mulai memberikan ceramah. Bila tidak, kau akan membuat semua orang merasa bosan.”

Jadi, ketika kita bersama Mawlana Syaikh Nazim mendengarkan sohbet. Ketika beliau bicara kepada kita, maka kita harus pastikan bahwa mata, telinga dan hati kita terbuka karena kita tidak hanya duduk dihadapan Awliyaullah saja. Pada kesempatan itu hadirnya Awliyaullah adalah hadirnya Rasulullah SAW. Bagaimana kita harus duduk? Bagaimana para Sahabat duduk dihadapan Rasulullah SAW adalah cara murid harus duduk, mencontohnya. Meski tidak seorang pun mampu meraih tingkat para Sahabat dan wali tidak bisa meraih tingkat Rasulullah SAW, namun kita harus mencontoh cara mereka agar kita mampu meraih apa yang ingin kita raih.

Dan itulah mengapa saya telah mengatakannya disatu waktu sebelum ini bahwa: Semua orang yang masuk ke dalam gua akan selamat. Ketika masuk ke hadirat gua Mawlana Syaikh, kita selamat. Itulah mengapa terakhir kali mengenai Grandsyaikh. Ketika Grandsyaikh diminta untuk mengemban tanggung jawab sebagai pembimbing, irsyad. Grandsyaikh berkata kepada Syaikh Sharafuddin – saya menyingkat cerita ini -, “Apakah manfaat bila saya menerima khilafah dari anda padahal saya tahu bahwa para murid saya tidak akan melakukan apapun? Mereka menjadi malas; tidak melakukan apa-apa kecuali ibadah wajib dan hanya itu saja! Jadi, jika anda memberikan saya otoritas dimana siapapun yang duduk bersama saya, saya akan menaikkan dia hingga menjadi satu tingkat dengan tingkat saya maka saya akan menerima irsyad!”

Itulah sebuah kabar gembira bagi kita semua: rahasia itu adalah bersama Mawlana Sultanu’l-Awliya Sayyidi Syaikh Muhammad Nazim Adil al Haqqani – semoga Allah SWT memberi beliau panjang umur.

Ketika kita duduk bersama beliau, beliau menaikkan kita bagaikan sebuah lift. Awliyaullah menaikkan para muridnya hingga sama dengan tingkat mereka sendiri. Jangan pikir Syaikh akan menerima seseorang yang akan berada dirantai oleh tangan setan. Seperti seorang jenderal militer yang tidak akan membiarkan seorangpun dari prajuritnya menjadi tawanan musuh, Awliyaullah tidak akan membiarkan para muridnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Rasulullah SAW tidak akan membiarkan Ummahnya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Allah SWT tidak akan membiarkan satupun hamba-Nya menjadi tawanan dalam tangan-tangan setan. Itulah mengapa Ummatun-Nabi SAW ummatu marhamma akan dikirim ke Surga!

Jadi beliau mengatakan, “Aku kirimkan cintaku kepada mereka,” yang artinya, “Aku mengurus mereka. Memberitahukan agar mereka tidak usah kuatir. Dan aku memberikan mereka dukungan.” Artinya kita diberi dukungan. Banyak orang mengatakan kalau Mawlana sakit, kita tidak perlu berkunjung. Jangan, jika hati kalian berkata, “Datang!” maka datanglah. Sudah cukup datang kepada maqam. Maqam … kehadiran beliau disini tidak bisa disingkirkan. Allah SWT memberi kita kehormatan dengan menjadi pengikut Mawlana dan bagian dari Ummatun-Nabi SAW.

Beliau juga berkata, “Beritahukan kepada mereka bahwa tahun ini adalah tahun penuh peluang.” Apakah arti dari “tahun penuh peluang”? Satu tahun penuh peluang artinya “Jangan biarkan satu peluangpun berlalu tanpa kalian memperoleh keuntungan darinya.” Itulah mengapa mereka terlalu banyak menggunakan kata “peluang” dalam dunia keuangan, makelar, pasar saham. Artinya, “Jangan biarkan satu saham berlalu saat kamu dapat melihat ada satu keuntungan dari saham itu, ini sebuah peluang, rebutlah!”

“Tahun ini adalah tahun perdagangan” ujar beliau, “dengan Allah SWT. Karena ini satu tahun yang penuh dengan kesulitan, pembalasan dendam dan hukuman.”

Jadi, inilah tahun penuh peluang bagi mereka yang merendahkan diri mereka; bagi yang melakukan awraad; yang melaksanakan ibadah-ibadah; yang berusaha menaikkan diri mereka dalam melawan hasrat dari ego-ego mereka! Bagi mereka inilah kesempatannya! Jangan biarkan kesempatan dan peluang ini hilang terutama pada tahun ini! Dan beliau mengatakan, “Tahun ini akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi kekuatan-kekuatan setan dan tahun yang mudah bagi kaum beriman!”

Semoga Allah SWT menjaga dan menjadikan kita beriman dengan berkah Syaikh kita yaitu Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani, dan dengan berkah-berkah dari Sayyidina Muhammad ‘alaihi afdala ash-shalaat was-salaam.

Wa min Allah at Taufiq


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: