Hakikat Nama Allah swt dan Hakikat Nur Muhammad

4 02 2009
Suhbat Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Rue Boyer 20 Paris, Minggu, 19 Maret 2006
Diambil dari http://www.mevlanasufi.blogspot.com

( Dalam Rangka Peringatan Mawlid Nabi Muhammad
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam

Allah Allah Allah Allah Allah Allah ‘Aziiz Allah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah
Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah SWT Huwa Sulthan, Dia-lah Sang Sulthan.

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim,
Bismillahirrahmanirrahiim. Nawaytul Arba’in Nawaytul
I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur
Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii
hadzal masjid.

Sangatlah penting untuk mengetahui bahwa Allah SWT
adalah Sang Sulthan, lihatlah apa yang tertulis di
sana [Mawlana Shaykh Hisham menunjuk ke kaligrafi
“Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok]
Allah dan di sampingnya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam -. Artinya, tak seorang pun akan
ditanya melainkan ia yang disisi Sang Pencipta.
Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian
tak akan langsung ditanyai, melainkan yang akan
ditanyai adalah ia yang bertanggung jawab atas sang
terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya
langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada
orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, Allah SWT
telah meninggikan derajat beliau – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – untuk ditanyai mewakili
keseluruhan ummat.

Para Sahabah ra, keseluruhan dari mereka tahu akan
hirarki mereka. Artinya, hirarki itu ada, dan mereka
tidak melangkahi batas hirarki mereka, setiap orang
mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai
Sayyidina Abu Bakar ra, dan kemudian dari Sayyidina
Abu Bakar ra untuk mencapai Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Sayyidina
‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat
ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita
datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam
perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita
tersebut, ketika sayyidina ‘Ali – karramAllahu wajah -
berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar, apa yang
kau lakukan?”

Mereka saling mendengarkan pada satu sama lainnya,
tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau
[‘Umar] tahu hal ini bahwa Nabi – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – pernah bersabda, “Ana madinatul
‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota
Pengetahuan dan ‘Ali adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar]
tahu akan hirarki yang ada, “Ya, ‘Aliy, apa yang mesti
kulakukan?” ‘Ali pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan
bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah
bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa
yang akan kau lakukan [atasnya]”.

Ini menunjukkan pada kita betapa mereka, para Sahabat,
saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan
pula bahwa mereka memahami akan hirarki. Sayyidina
‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah – berkata, “’Ali
telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang
pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina
tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah
tentang sahabat Uwais al-Qarani. Saya akan menjelaskan
tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal
tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar
al-Aswad].

Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa
semua orang yang ada di sini adalah bagaikan
bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga
memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga
memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur
pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan
warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah,
jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian
akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan
setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak
akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun
tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu
bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja,
itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal.

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -, Allah SWT telah membusanai beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – dengan
Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia SWT
telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui
Nama-Nama- dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Allah ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia SWT
berfirman [dalam suatu hadits qudsi, red.], “Kuntu
Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul
khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin
Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah
ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu
ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa
keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan
ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang
Allah Ta’ala akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga
[sebagaimana difirmankan Allah SWT], “Allahu Nurus
Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS.
An-Nuur 24:35], Allah-lah Cahaya Lelangit dan Bumi
[untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan
Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan
berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan
berbagai warna pelangi yang demikian beragam.

Sebenarnya, tadinya saya hendak menceritakan tentang
Sayyidina ‘Umar ra dan ‘Ali ra untuk menjelaskan hal
tertentu, tapi saya pikir mereka mengalihkan
[pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar dan ‘Ali
yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Shaykh Nazim qs
[semoga Allah melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan
mengaruniakan beliau panjang umur]… Saya akan
kembali ke topik tersebut, tapi beliau sedikit
mengalihkan [pembicaraan kita].

Saat Allah SWT adalah suatu ‘Harta Tersembunyi’,
artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui,
yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala,
Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat
memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat
memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah Ta’ala ingin
agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia SWT pun
‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk
mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara
berkesinambungan tanpa ada henti. Dan
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta
Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak
mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali
Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan
diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di
zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna
Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi
wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr
59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka
berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada
hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat
dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat
tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu
pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat
mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun
dapat mendeskripsikan air ini [Mawlana menunjuk ke
suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu
gelas, tapi kalian jika kalian tak mencicipi air
tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat
kelezatan air yang menyegarkan itu.

Allah SWT ingin untuk diketahui. Maka, untuk
diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu
ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah SWT
Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah Ta’ala mengetahui
Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah Ta’ala tahu akan
Diri-Nya, Allah tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya,
Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang
Indah tahu akan Dzat, tapi tak setiap Nama tahu satu
bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu
Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama
memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat
mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah.
Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah,
kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li
l-Asma’ was Sifat.”

“Allah” adalah Nama yang meliputi keseluruhan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan
Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami
Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan
haruslah muncul agar rahmat Allah SWT ini, yang berupa
suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau
dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda
ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah
ciptakan pertama-tama. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – menjawab, “Ia SWT pertama-tama
menciptakan cahayaku” untuk mengenakan
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah Ta’ala ini. Jadi, cahaya tersebut
diciptakan dengan tujuan untuk mengemban
manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad
tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi
dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam
Muhammad, dalam an-Nur Muhammad tersebut, Cahaya dari
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
Cahaya Muhammadaniyyah.

Nur Muhammadi yang memantulkan Cahaya dari Nama-Nama
dan Sifat-Sifat Indah Allah tersebut, memantulkan ke
siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan
cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya
matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, An Nuur
Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi
suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia
pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang
dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena
itulah salah satu nama beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – adalah Muhammad, karena esensi/dzat
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – tak
dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat
digambarkan, kecuali hanya melalui
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah Ta’ala.

Jadi, Nabi Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – pun harus memanifestasikan diri beliau pada
sesuatu. Maka, Allah Ta’ala pun menciptakan dari
Cahaya beliau, Adam ‘alayhissalam untuk muncul melalui
diri beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam, karena
itu Allah SWT menciptakan Adam dari manifestasi
nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, melalui
manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah SWT. Ia SWT menciptakan Adam dari Cahaya
itu. Dan, karena itu pula, beliau – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam
bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang Nabi
ketika Adam masih di antara tanah liat dan air”,
karena Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
telah mengetahui siapa dirinya.

Karena manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar
suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar,
berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi,
dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi,
hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah
generator. Suatu generator jika diputar amat cepat,
akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran
listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat
menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu
pula, Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini
dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Hakikat Sayydina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam -, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah
Ta’ala pun mencelupkan cahaya Muhammad dengan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya
[literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat
beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun
berputar, dan berputar, berdasarkan Hadits Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di atas
[tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – berputar, dan
berputar, memancarkan energi, yang dari energi
tersebut, Adam muncul.

Jadi, karena itulah Adam ‘alayhissalam diciptakan dan
dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Saat Allah
berkehendak menciptakannya, Ia SWT memerintahkan
Jibril ‘alayhissalam untuk pergi ke Bumi dan mengambil
segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya,
sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, “Wa laqad
karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr,
wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum
‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS.
Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan
manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di
Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari
hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka
dari sekalian ciptaan Kami lainnya”.

Allah Ta’ala memuliakan sayyidina Adam dengan membawa
tubuhnya, Ia Ta’ala membawa tubuhnya dari Bumi ke
mana? Ke Langit! Allah SWT membawa dari Bumi, tubuh
Adam, realitas Adam, Hakikat Adam, tubuh dari Adam
dibawa dari Bumi, dan Allah Ta’ala memuliakan manusia
dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam
‘alayhissalam. Di sana, Ia SWT membentuknya dengan
nama-nama dan sifat-sifat mulia dari sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di
dahi Adam. Dan saat cahaya Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – tersebut muncul di
dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi.

Iblis demikian marahnya karena ia mengharap untuk
menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud,
Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah SWT
pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -, melalui cahaya tersebut. Iblis
menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah
dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal
Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap
jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah.
Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tapi
akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan
mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi
Adam ‘alayhissalam dengan membisikkan [was-was] ke
telinganya untuk membuatnya turun.

Kita akan berbicara tentang masalah ini, tentang Iblis
dan Adam, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan
dengan sesuatu yang lain. Jadi, ketika cahaya
Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – tersebut tengah berputar, dan bagaikan
sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan
yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi
tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber
asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan
dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual
tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah
disiapkan oleh Allah SWT. Karena itulah Allah SWT
berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi”[QS.
As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam, dari Ruh-Ku,
Cahaya-Ku, atau dari Ruh, dari Manifestasi-manifestasi
Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah
dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – dan muncul keluar sebagai
suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam, dengan cara
itulah Adam bergerak dan ruh itu keluar.

Karena Adam dibentuk pada suatu tempat tertentu, dan
para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang,
melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”
“Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari
bentuk fisik Adam, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk
ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak
dengan cahaya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -, An-Nuuru Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam -. Sumber dari ciptaan yang Allah SWT
menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru
l-Muhammadi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Jadi, apakah rahasia di balik Nuuri Muhammadi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – yang membuat
Adam ‘alayhissalam bergerak?

Setiap malam kalian mencatu energi telepon selular
kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di
tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi
komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun
mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu.
Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti.
Saat Adam ‘alayhissalam dicatu energi dengan Nur
Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia
berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan
manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum,
hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang
dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin
dan Mawlana tertawa].

Setiap kalinya ada 500 juta sperma. Dan salah satu
dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan
terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah!
Lihat, lottere/undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun
ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam
Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa].
Apakah kalian bermain lottere? Kita semua bermain
lottere.

Saya mendengar dari Grandshaykh, semoga Allah
merahmati ruhnya, Mawlana Shaykh ‘Abdullah
ad-Daghestani, dan dihadiri pula oleh Mawlana Shaykh
Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, Sulthanul Awliya’;
pada saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan dari
Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa
Allah SWT kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’
Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang
kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di
buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah SWT
ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di hari Kiamat
nanti dan betapa besar Ummah beliau – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -. Ia berkata bahwa Awliya’
Allah baru saja [di masa Grandshaykh saat itu]
menerima ilham pada Awliya’Allah dari qalbu Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
bahwa Allah SWT untuk menunjukkan betapa besar Ummatun
Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dari
setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian
melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak
ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak
sperma yang keluar, Allah Ta’ala akan menciptakan
manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi
anak-anak kalian.

Allah SWT untuk menunjukkan keagungan Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
kata Grandshaykh (semoga Allah melimpahkan barakah
pada ruhnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya,
apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa
banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta,
Allah pun akan menciptakan 500 juta manusia yang
mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan
mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku,
Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan mereka
akan menjadi bagian dari Ummatun Nabi – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -. Karena itulah Ummah ini
di Hari Pembalasan nanti akan menjadi Ummah terbesar,
yang meliputi setiap tempat.

Marilah kita kembali ke kisah Adam ‘alayhissalam Kita
mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon
selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita
mencatu energinya. Jadi, Allah SWT pun memerintahkan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk
termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – sebagai
Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah
tersebut. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – adalah manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah SWT ingin untuk
memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia SWT pun akan memandang pada
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini
menjadi milik Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -.

Allah menghiasi diri beliau dengan Nama-Nama Indah dan
apa pun yang Allah SWT inginkan untuk membusanai dan
menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – pun memanifestasikan hal
tersebut pada Adam melalui Cahaya itu, yang bergerak
ke dalam [tubuh] Adam dan mulai membuatnya
bergerak…. Tapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat
penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula
mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh
ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung
Sayyidina Nabi Adam as, mereka pun dicatu (oleh Cahaya
itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu
energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma
tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma
(atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur
kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya
lewat Cahaya itu.

Karena itulah, kalian melihat pada orang-orang, untuk
suatu sperma yang mungkin cuma dicatu/ditetapkan
selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yang
setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu
mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun,
yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50
tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun…
Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah
dicatukan atau ditetapkan pada sperma-sperma ini dari
Cahaya tersebut.

Jadi, Cahaya tersebut, Energi tersebut, saat ia
berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat
baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang,
kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan
kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata
pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat
seseorang mati, karena energinya, baterainya telah
habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai
baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan
energinya pun berbeda untuk hal ini.

Jadi, karena itulah, kekuatan atau energi itu, saat
diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu
tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak
dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari
jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak,
bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya
pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi
kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang
kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut,
atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang
memiliki kekuatan/daya.

Dan siapakah yang memberikannya pada Adam
‘alayhissalam? Allah, dari Allah pada Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
dan dari Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – kepada Sayyidina Adam ‘alayhissalam
Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS
Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh
Allah, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya
Sayyidina Adam, cahaya Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan Cahaya dari Allah
SWT. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa
inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156]
“Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kepada
Allah-lah kita akan kembali”.

Cahaya itu harus kembali ke Sumbernya. Dan karena itu
pula Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku
mengamati ‘amal Ummat-ku, jika aku mendapati kebaikan
padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah, dan jika aku
melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili
mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – adalah
seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan
ditanya tentangnya. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – haruslah memelihara cahaya itu dan
mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni
seperti keadaan awalnya, saat Allah SWT mengirimkannya
ke Muhammad, dan Muhammad ke Adam.

Karena itu Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – bersabda dalam hadits tersebut, “Tu’radhu
‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran
hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik
fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda, “Aku mengamati
amal Ummat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu
mendampingi Ummah. Dan Ummah beliau tidaklah hanya
ummah [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga
ke masa Adam ‘alayhissalam.

Karena itulah, pada Adam, Allah SWT memberikan padanya
nama Adam yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan
Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah, apa
itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama
Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf
Dal. Artinya, Allah, huruf pertama pada “Adam” adalah
dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf
terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal,
jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh
ciptaan. Jadi dari Allah SWT menciptakan suatu
ciptaan, memberikannya pada Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan itulah Adam. Sesuatu
yang diwakili oleh Adam ‘alayhissalam

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang
Pencipta, mewakili seluruh Ummah. Kita, keseluruhan
diri kita, adalah pengikut dari Shaykh kita, dan
Syaikh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad
- sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, tentang
keseluruhan diri kita.Setiap malam, beliau ditanya,
Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah melimpahkan
barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat
Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salatun
Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang,
semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan
mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa
pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban
mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah.
Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal
ini.

Saya pikir sudah cukup apa yang kita perbincangkan.
Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani
esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya
disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin
di antara satu sama lain, disiplin di antara murid.
Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat
Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu
disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin.
[Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur
berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri…
dan berusaha untuk… Mereka melihatnya sebagai suatu
jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus,
ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda,
berbagai cara untuk menggambar garis, …dan
orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas
darinya.

Saya akan mengulas tentang hal ini, insya Allah. Ada
disiplin linear, ada disiplin circular. Dan insya
allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan
apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu
teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi. Dan
kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syaikh
Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya,
Abdallah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di
sini… Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna
Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh.. [Dilanjutkabn Dzikir
Khatm Khawajagan]

Wa min Allah at tawfiq

Wassalam, arief hamdani


Aksi

Information

2 tanggapan

26 03 2009
ivan sugiharto

assalamualaikum.wr.wb.
saya ingin bertanya tentang sesuatu.dalam tubuh kita,hati di ibaratkan sebagai hajjar aswad.lalu air yang mengalir dalam tubuh kita itu apa?

20 11 2010
elfan

Kalau kita membuka Al Quran, QS. 15:29 dengan tegas berbunyi sbb.: “Setelah Aku sempurnakan bentuknya (Adam) dan Aku tiupkan kepadanya (Adam) ruh-Ku, maka hendaklah kamu tunduk merendahkan diri kepadanya (Adam)”

Jelas di sini tak ada sinyal cerita masalah Nur Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: