Temukan Sumber Awet Muda – Manfaat dari Menjaga Lidah dengan Zikrullah

20 01 2009

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (qs)
Hari Sabtu Tanggal 13 September 2008

Fenton, Michigan-Amerika Serikat

SubhanAllah, idzaa zulzilat al-ardhu zilzaalahaa dan apa yang ada di
dalam bumi dikeluarkan.

Di Indonesia, mereka sedang mencari minyak bumi. Mereka membor 300
meter ke bawah tanah hingga membentur lapisan bumi berisi lumpur
mendidih. Dan selama 2 tahun sampai hari ini, tempat itu memuntahkan
lumpur panas yang menggenangi desa-desa. Sudah 2 tahun tidak berhenti.
Lima ratus ribu dolar Amerika kerugiannya dalam sehari.

Jadi, saat Allah SWT berfirman, “wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa,”
lumpur naik ke atas dan menenggelamkan semua desa.

Ketika kami bersama Mawlana Syaikh di Jepang, kami bertemu seorang
laki-laki. Dia punya kartu nama. Dikartu namanya itu tertulis laa
ilaaha illa-Allah Muhammadan Rasulullah
dan “Bacalah ini, Anda akan
masuk surga”. Dia berkata, “Inilah tugas saya.” Siapapun yang
membacanya, maka mendapatkannya.

Jadi, buatlah kupon rumah makan – memberikan diskon 10% pada semua
orang yang punya kupon itu. Beritahukan kepada mereka untuk membacanya
(Laa ilaaha illa Allah) kemudian berilah diskon.

A’udzu billah min ash-shaytan ir-rajiim
Bismillahir- Rahmanir- Rahim

Nawaytu’l-arba`in, nawaytu’l-`itikaaf, nawaytu’l-khalwah,
nawaytu’l-riyaada, nawaytu’s-suluk, nawaytu’l-`uzlah lillahi ta`ala
fii hadza’l-masjid

Itu artinya, jika hati secara istiqamah terus menerus dalam keadaan
zikrullah dan tidak ada apapun yang dapat mengalihkan perhatiannya,
sehingga hatimu selalu terjaga dengan zikrullah, abwab ul-ma`rifah,
pintu ma`rifah mulai terbuka dan begitu juga 6 Haqiqat kepada kalian.
Sebagaimana yang sudah kami jelaskan pada pertemuan sebelumnya.
Konsistenlah dalam cinta kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW.
Jadi, orang-orang mungkin bertanya apakah definisi dari cinta. Karena
ada mereka yang tidak mau menerima definisi cinta kecuali yang
didefinisikan budaya barat.

Apakah cinta itu? Cinta sangatlah sederhana. Yakni, mencintai segala
sesuatu bagi Akhirat karena Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan membenci
segala sesuatu yang diperuntukkan bagi dunya, demi kepentingan Allah
SWT dan Rasul-Nya. Artinya, jika kalian mencintai anak kalian, maka
kalian harus mencintainya karena Allah SWT. Jika mencintai istri
kalian, maka cintailah karena Allah SWT. Jika mencintai sesuatu yang
kalian miliki, maka cintailah karena Allah SWT, cinta itu harus ada di
Jalan Allah SWT.

Jadi, jika hati selalu berada dijalur yang lurus maka Allah SWT
membukakan keenam haqiqat ke hati kalian.

Jadi, sepanjang waktu kami menjelaskan. Namun yang kita butuhkan
adalah praktek. Seperti dokter. Tanpa melakukan 3 tahun latihan, para
dokter tidak akan didatangi satu pasienpun. Jika kita tidak melatih
apa yang kita pelajari, maka saya rasa kita hanya  membuang-buang
waktu.

Namun alhamdulillah kita dapat melihat apa yang orang-orang praktekkan
meski pada basis yang minimal. Mereka mempraktekkan dengan
menyeberangi lautan (untuk datang kesini) karena cinta yang dibukakan
kepada mereka. Apakah dari cinta kepada dunya? Sehingga mereka datang
untuk mendengar dan belajar, mengendarai mobil selama berjam-jam,
untuk apa semua itu? Untuk sebuah sebab yang sejati. Jika didalam hati
mereka tidak ada cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta
Syaikh kita, mengapa mereka datang mengemudikan kendaraannya
bermil-mil ke…

Ini menunjukkan bahwa kita berada dijalur yang benar. Kita harus tetap
berada dijalur ini kemudian Allah SWT akan membukakan ma`rifah kepada
kalian. Saat ma`rifah dibuka, maka `ilm datang.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا
وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaa aatainaahu rahmatan min ‘indinaa wa
‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa
– Lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya
rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi Kami. [Al Kahfi (18):65]

Mengapa Dia mengajarkan pengetahuan surgawi-Nya? Karena beliau
menemukan sumber awet muda. Mengapa Dia mengajari Sayyidina Khidr?
Karena Sayyidina Khidr mencari dan mencari sumber tersebut. Apakah
kita punya sebuah sumber untuk diri kita? Ya, kita punya sebuah
sumber. Namun kita belajar dari sumber itu dari waktu ke waktu. Tapi
tidak terus menerus.

Kita punya sumber, Allah Maha Kuasa akan menjadikan hatimu sebuah
sumber. Qalb al-mu’min bayt ar-rabb– hati orang beriman adalah Rumah
Tuhan. Rumah Allah tidak akan menjadi kosong, tapi akan menjadi penuh.

Jadi, ingatlah Allah (zikrullah) sebagaimana Rasulullah SAW ucapkan,
“Jagalah lidahmu dengan zikrullah. Ija`l lisanak ratban bi zikrullah“.
Jadi, zikrullah adalah satu-satunya yang akan membawa kalian ke sumber
sejati yang akan menempatkan pengetahuan ke dalam hatimu.

Ma`rifah dalam bahasa Arab artinya “untuk mengetahui sesuatu, ‘Ilm
yang lebih tinggi. Ma`rifah lebih tinggi. Ketika tahu sesuatu, maka
kalian mulai menyelidiki dan kemudian Allah SWT akan mengirimkan ‘ilm
pada kalian.

Begini, banyak orang di basement rumahnya… [adzan berkumandang] Allahu
Akbar. Banyak orang mempunyai sistem alarm di basement, jika ada
banjir maka alarm akan berbunyi memberikan peringatan. Atau kalau ada
kebakaran, alarm akan segera berbunyi. Api, api, api. Banjir, banjir,
banjir. Kita harus menaruh sebuah alarm di hati kita. Yang akan
memberi peringatan jika kita tidak berada dijalur yang benar.

Hati-hati kalau alarm berbunyi, artinya setan ada disana. Apakah alarm
tersebut? Itulah zikrullah. Ketika kita melakukan zikir dengan
dizaharkan atau disuarakan, maka segera alarm akan datang. Suara-suara
tidak setuju bermunculan, kemudian dengan segera hatimu mengingatkan untuk
ber-zikrullah. Lalu terserah kalian apakah akan membuka pintu bagi
pengacau atau tidak.

Jangan berusaha mencari-cari alasan, “Oh aku sudah melakukan ini atau
aku sudah melakukan itu dan aku tidak tahu apa-apa.” Semua orang tahu
berdasarkan pada pikirannya mana yang baik dan tidak baik. Jangan
berkata, “Aku tidak tahu.” Kalian tahu, fa alhamaha fujuuraha. Tapi
ucapkan, “Aku memang melakukannya, semoga Allah mengampuniku!”

Jadi ma`rifah lebih tinggi – itu akan membawa kalian lebih tinggi.
Bersungguh-sungguhl ah dan Allah SWT akan mengajari kalian. Apalagi hal
yang lebih baik yang kalian inginkan? Apakah ingin seseorang mengajari
kalian? Jika Allah SWT berfirman, “Bersungguh-sungguhl ah dan Aku akan
mengajarimu,” kalian harusnya sangat senang. Kalian akan menemukan
guru seperti itu.

Ketika kalian memuat iklan dikoran dan ingin mendapat seseorang
bergelar Ph.D, maka kalian akan memilih yang terbaik bukan?

Jadi, Allah SWT berfirman, “Aku akan mengajarimu. Tapi kau harus
bersungguh-sungguh.”

Ada lubang-lubang peluru yang harus kita bersihkan dalam pikiran kita.

Allah SWT adalah Maha Guru. Ketika Allah SWT mengutus Sayyidina Khidr
untuk memperlihatkan kepada Sayyidina Musa beberapa pengalaman yang
dilakukannya kepada orang-orang, kemudian malah Sayyidina Musa tidak
sanggup bersabar … “innaka lan tastati` maya sabra“. Itu untuk seorang
nabi.

Tapi di zaman Ummat Sayyidina Muhammad SAW, kitalah ummmatan marhuma –
Allah memberkahi ummat Muhammad dengan rahmat. Allah SWT berfirman,
“Aku akan menjadi gurumu. Bersungguh-sungguhl ah dan Aku akan
mengajarimu.”

Apa yang akan Allah SWT ajarkan? Allah SWT akan mengajarkan sesuatu
yang tidak seorang pun bisa ajarkan. Dia tidak akan duduk seperti itu
dan mengajar kalian. Laa tadrikahu al-absaar – ada suatu cara untuk
dapat melihat Dia. Namun Allah SWT akan memberi inspirasi kepada
kalian, mengirimkan inspirasi ke hati kalian dan menjadikannya seperti
sebuah sumber; kalian mampu bicara dan bicara dan bicara dan orang
mendengarkan serta mengambil hikmah dari kalian.

Grandsyaikh Maulana Syaikh Abdullah Daghestani, semoga Allah merahmati
jiwa beliau, tidak pernah membuka sebuah buku. Beliau tidak belajar.
Tapi dari hari ketika beliau dilahirkan oleh ibunya, mata hati beliau
terbuka. Grandsyaikh tidak membutuhkan seorang pun untuk mengajarinya,
beliau mengambil dari Sayyidina Muhammad SAW. Kalian akan terkejut
saat beliau masih hidup, para ulama datang untuk mendengarkan
ceramah-ceramah yang disampaikannnya. Dalam majelis Grandsyaikh ada
100, 50, 70 orang ulama datang untuk mendengarkan.

Para ulama tersebut dari ulama Syari’ah dan ulama yang mempelajari
Islam. Saat Grandsyaikh bicara memberikan ajaran-ajaran, mereka
menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. Salah satu dari mereka
adalah pamanku; dia adalah pimpinan seluruh ulama diwilayah tersebut.

Satu waktu, kami membawa paman menghadap Grandsyaikh setelah berbagai
upaya. Paman selalu menolak, karena dia merasa dirinya ulama. Paman
berkata, “Aku tahu lebih banyak dari semua orang, mengapa aku harus
mengunjunginya?” Itulah kesombongan. Jadi sebagai seorang ulama dan
mereka biasa memanggil pamanku dengan sebutan ‘allama, yang artinya
“orang yang mengetahui banyak hal dari setiap pengetahuan.” Segala
sesuatu yang kalian tanyakan, pasti dia tahu.

Dua tahun yang lalu, saya sedang di Lebanon. Dan saya bertemu dengan
salah satu imam tertinggi, Mitron Khidr, dia sangat terkenal. Dia
kenal pamanku dan ketika saya menyebutkan nama pamanku dia berkata,
“Aku akan menceritakan sesuatu kepada anda.” Ada istri Perdana Menteri
dan seluruh komunitas elit. Dan saua memberitahunya sebuah cerita
mengenai pamanku yang terjadi kepadaku.

Apakah kalian senang mendengar cerita?

Saya masih muda waktu itu dan akan menghadapi ujian akhir sejarah.
Saat itu saya masih SMA. Hari terakhir adalah ujian sejarah. Pelajaran
itu sangat susah dan bukunya banyak sekali. Saya menghampiri paman dan
dia bertanya, “Ada apa?” Saya menjawab, “Saya akan menghadapi ujian
akhir dan banyak buku yang harus dibaca.” Kemudian pamanku berkata,
“Biarkan aku melakukan sholat istikharah dan lihatlah jenis pertanyaan
apa saja yang akan dikeluarkan untuk ujian.”

Ada ribuan pertanyaan yang mungkin dipakai untuk ujian, bukan hanya
satu. Paman membuka sebuah buku, dia punya sebuah buku tapi bukan buku
sihir. Itu merupakan salah satu buku terkenal di perpustakaan Islam.
Paman punya satu salinannya yang umurnya sudah sangat tua, sebuah
manuskrip. Paman berkata, “Aku akan melakukan sholat istikharah dan
hasilnya akan aku beritahukan padamu.” Aku berpikir, “Apa maksud
paman?!”

Paman membuka buku itu. Dia tidak tahu sejarah apa yang akan diujikan
esok hari dan dia memberitahuku -setelah dia membuka dan membaca
buku-, “Ujian yang besok akan kau hadapi adalah sebuah pertanyaan
mengenai Sulaiman al-Qanuni [yang Terindah] seorang kaisar dari
dinasti Utsmani dan penguji akan menanyakan kepadamu mengenai sejarah
hidupnya.”

Saya percaya pada paman. Kemudian saya pergi dan mempelajari soal itu
sebaik-baiknya dan kami pun pergi ke kelas. Dan saya memberitahu
seorang teman, yang lain memberitahu yang lain dan desas-desus ini
menyebar ke seluruh kelas. Sampai pula ke telinga guru. Dan pada ujian
sejarah adalah 15 halaman mengenai Sulaiman al-Qanuni. Jadi, mereka
menyangka bahwa aku telah mencuri soal ujian dari tempat penyimpanan.
Pak Guru menuduh dan saya menjawab, “Tidak! Ini ceritaku.”

Guru itu adalah seorang mahasiswa PhD yang sedang menulis thesisnya.
Saya berkata, “Tidak, pamanku yang mengatakannya. Saya tidak tahu
kalau Anda memberi soal ujian mengenai Sulaiman al-Qanuni.” Jadi, dia
pun berkata, “Baiklah, aku akan menulis pertanyaan dikertas-kertas
kecil, dilipat dan dibungkus. Lalu dimasukkan ke dalam kendi. Semuanya
ambil satu kertas dan jawablah pertanyaan yang tertera didalamnya.”

Jadi, dia membuat satu per satu pertanyaan, ada 200 pertanyaan. Dia
punya 60-70 orang murid sehingga dia membuat banyak ekstra kertas.
Kemudian tiba giliranku dan saya mengambil satu kertas. Kertas itu
berisi sebuah pertanyaan mengenai Sulaiman al-Qanuni.

Guru itu tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan aku menjawab
pertanyaan yang ada. Jadi, aku mendapat nilai A+.

Setelah ujian, dia menyuruhku, “Jangan pulang dulu setelah kelas
selesai.” Saya menunggu dan beliaupun menghampiriku seraya bertanya,
“Aku ini mahasiswa PhD dan sebentar lagi akan menghadapi ujian.
Dapatkah pamanmu memberitahuku jawaban ujian?”

Lalu guruku itu pergi bersamaku ke tempat paman. Dan pamanku sangat
ahli dalam bahasa Arab dan dia menyukai ini.

Paman melakukan istikharah. Dan paman memberikan 3 buah pertanyaan yang
dia perlukan untuk lulus dari ujian. Setelah saya selesai bercerita,
Mitron (sang uskup) memberitahuku sebuah cerita tentang pamanku.
Katanya:

Suatu kali aku pergi dan kami mendiskusikan sebuah kata dalam bahasa
Arab. Kata yang tidak pernah terpikir oleh seorang pun. Kata ini
sangat dalam maknanya tata bahasa Arab. Bagaimana mereka menggunakan
kata itu digunakan antar suku dizaman sebelum Rasulullah SAW diutus.
Jadi, aku memberikan pamanmu jawabannya, dia juga memberikan jawaban.
Dan aku tahu bahwa jawabannya benar dan jawabanku mungkin hanya
setengahnya yang benar. Akhirnya, dia marah padaku. Dia berkata,
“Dengar, tidak ada lagi argumentasi!” Pamanku punya sebuah
perpustakaan seperti masjid ini dan semua temboknya dijejali
buku-buku. Dan paman duduk dilantai perpustakaan -tidak pernah disofa-
ditemani secangkir teh didepannya.

Dia berkata, “Uskup besar, masuklah. Aku tidak bisa berdiri. Pergi dan
hitunglah 25 buah lemari buku yang ada dan pergilah ke lemari buku
ke-25. Disana ada 6, 7 lapis buku dan ambillah yang ke-15, halaman
552, dan baris 27. Kau akan melihat apa yang aku beritahukan padamu.
Sang uskup besar pergi dan menemukannya.

Jadi, hal itu terlintas dipikiran. Bagaimana paman mengingat buku itu
yang ada dilemari yang mana, lapisan ke berapa, halaman dan baris ke
berapa?

Jadi, uskup mengambil buku dan menemukan halaman dan baris yang
dimaksud. Dibuku itu tertera, apa yang sebelumnya paman katakan.

Kami membicarakan mengenai `ilm. Kalian tidak butuh seorang guru.
Allah SWT memberimu sesuatu yang tidak Dia berikan kepada yang lain.
Itulah mengapa dalam hadist Rasulullah SAW, “Hamba-Ku terus berusaha
mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah nawafil, sehingga
Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi
pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi)
penglihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya
yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang
dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepadaku-Ku, sungguh, akan Aku
beri dia, dan jika ia memohon perlindungan- Ku, Aku benar-benar akan
melindunginya. [1]

Jadi, kami mendorong paman agar menemui Grandsyaikh. Dan akhirnya
paman setuju. Kami menyetir selama 3 jam dari Beirut ke Damaskus.
Paman tidak senang pergi bepergian, paman tidak pernah meninggalkan
bantal alas duduknya. Paman selalu ada dilantai dengan buku-buku dan
tehnya.

Pada umur 5 tahun, paman sudah menghafal seluruh Kitab Suci al Qur’an
di Mesir. Pada umur 7 tahun, paman duduk didalam ban truk dan meluncur
dari bukit. Mereka datang dan bertanya fatwa kepada paman. Paman
berkata, “Biasanya aku sedang duduk/meluncur dalam ban.”

Jadi paman pergi bersama kami, dia tidak berkata apa-apa dan hanya
menggumam. Sampai kami tiba -dan kami tidak memberitahu paman bahwa
ada lereng yang harus didaki- dan paman pun menggumam sepanjang jalan.
Dan Grandsyaikh sedang menunggu didepan pintu meskipun kami tidak
memberitahu beliau akan berkunjung dan membawa paman. Dan kami semua
berjumlah 5 orang. Grandsyaikh memeluk paman dan berkata, “Masuklah.” Dan
kemudian Grandsyaikh membuka sebuah sohbet dan bicara selama 3 jam.
Ketika paman datang bersama kami, paman menggumam. Ketika kami
menyetir, paman menggumam. Saat berjalan, paman menggumam. Namun
ketika Grandsyaikh mulai bicara, paman berhenti menggumam. Paman
terkesima. Ketika Grandsyaikh selesai bicara, paman mendatangi dan
mencium tangan Mawlana. Seorang ulama seperti itu, memeluk dan mencium
tangan seorang syaikh -itu sangat berarti.

Kemudian Grandsyaikh menawarkan makanan dan berkata, “Kau tidak bisa
pergi.” Paman makan dan kemudian saat kami hendak pulang, paman
mencium kaki dan tangan Grandsyaikh. Untuk ulama saat ini, mencium
kaki adalah masalah besar, mereka sebut itu bid’ah. Begitu juga untuk
pamanku, mencium kaki itu adalah masalah yang sangat besar.

Jadi, paman berkata dalam perjalanan kembali ke Beirut, “Aku sudah
membaca ribuan buku.” Dan hati paman bagaikan sebuah mesin fotokopi,
apapun yang paman baca, paman mengingatnya.

Paman melanjutkan, “Ada 7 buah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh
ulama Muslim dimasa lalu. Aku menaruh pertanyaan ini dipikiranku bahwa
itulah yang akan aku tanyakan kepada beliau dan untuk memojokkan
beliau agar memperlihatkan bahwa aku lebih tahu darinya.”

“Dan saat aku datang, beliau mulai bicara dan tidak memberikan aku
kesempatan untuk bertanya. Dan beliau membawa jawaban atas ketujuh
pertanyaan dalam pembicaraannya dan memberikan jawaban untuk
pertanyaan itu seakan-akan tidak ada artinya bagi beliau.” Paman
meneruskan, “Pada tiap kata yang beliau sampaikan kepadaku, aku dapat
menulis sebuah buku. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti
beliau.”

Ketika Allah SWT hendak memberikan ‘ilm, ma’rifah, Dia memberi. Hal
itu tidak datang dengan belajar. Kalian memperoleh sesuatu namun
terbatas. Namun kalian harus belajar, sebagaimana perintah pertama
dalam Qur’an yaitu “Iqra!” Dan Rasulullah SAW pernah berkata,
“Timbalah ilmu hingga ke negeri Cina.” Hal ini mempunyai 2 makna.
Timbalah ilmu dimanapun kau bisa menemukan ilmu. Dan makna lainnya
adalah: carilah ilmu dan teruslah mencari; bahkan bila perjalanan yang
ditempuh begitu jauh, janganlah lelah. Carilah cinta Allah SWT,
carilah cinta Rasulullah SAW. Carilah cinta Awliyaullah. Jangan
berkata, “Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menampungnya. Terlalu
banyak masalah. Terlalu banyak kesulitan.”

Tentu saja ada banyak kesulitan. Kalian hidup di kehidupan yang penuh
dengan kesulitan.

Apakah Sayyidina ‘Isa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina
Musa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina Muhammad SAW tidak
berada dalam kesulitan? Ya, Rasulullah SAW bersabda, “Akulah Nabi yang
paling disiksa oleh sukunya sendiri.”

Ya, ada rintangan-rintangan . Dan rintangan ini berbuah pahala. Apakah
Allah SWT menghukum Sayyidina Muhammad SAW dengan kesulitan-kesulitan
itu, atau justru Allah SWT mengangkat beliau? Jadi Allah SWT memberi
dan mengajari Awliyaullah. Jagalah hati kalian dengan zikrullah,
apakah yang pertama-tama akan kalian peroleh? Pengetahuan tentang
sesuatu. Ketika kalian tahu pengetahuan, maka pengetahuan akan
mengarahkan kalian untuk memahami kebesaran pencipta kalian lalu kita
akan tiba di tingikat ketiga yaitu, Maqam at-Tauhid. Pemahaman sejati
mengenai Ke-Esa-an Allah SWT. Kemudian ketika kalian mengucapkan laa
ilaaha illa-Allah
maka insya-Allah diterima namun kita memohon kepada
Allah SWT untuk mengubah dari yang imitasi ke yang asli.

Ketika Awliyaullah mengucap laa ilaaha illa-Allah, mereka berada di
Hadirat ilahiah; itulah arah mereka. Menyaksikan bahwa tidak ada Rasul
penghabisan kecuali Sayyidina Muhammad SAW. Menurut kalian jika kalian
mengucapkannya dengan hati yang tulus, apakah Allah SWT tidak akan
melimpahkan pengetahuan ke hati kita, apakah Sayyidina Muhammad SAW
tidak akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita; apakah syuyukh tidak
akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita?

Pada saat itu, kita akan memahami makna ketulusan: Surat al-Ikhlash.
Itu artinya kalian tulus terhadap Tuan kalian yang Maha Esa, Dia tidak
membutuhkan siapa pun dan Dia bergantung pada segala sesuatu dan Dia
tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan kemudian kalian paham
maqam at-tauhid. Lalu kalian tahu bahwa kalian bergantung kepada Allah
SWT. Itulah Maqam at-Tawwakul, bergantung. “Tawakaltu `ala-Allah
Engkau-lah yang membantuku, ya Allah! Aku pasrahkan segalanya
kepada-Mu!”

Jadi, hal itu membawa kalian dari Maqam al-`Ilm ke Maqam al-Ma`rifah
ke Maqam at-Tauhid dan kemudian ke Maqam at-Tawakul dan kemudian ke
maqam kelima yaitu, Maqam `Iraad `Amman Siwa – meninggalkan segalanya
kecuali Allah. Alihkan wajah kalian dari segala sesuatu kecuali Allah
SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah SWT membimbing dan mengarahkan kita.

Itulah mengapa Allah SWT berfirman, “Dawam al-dzikri sababan li dawam
al-khair fii ad-dunya wal-akhira
.”

Itulah yang Rasulullah SAW berikan kepada seorang sahabat saat dia
berkata kepada Rasulullah, “katsurat ‘alaya syari’a al-islam
aturan-aturan Islam jadi terlalu banyak bagiku, berikan aku sesuatu
yang dapat aku lakukan…”

Rasulullah SAW menjawab sahabat itu, “Jagalah lidahmu dengan mengingat Allah.”

Zikrullah menyelamatkan dan membawa kita kepada zikr an-Nabi (SAW). Wa
min Allah at-Taufiq, bi hurmatil habib al-Fatiha
.

Semua hujan ini berasal dari badai itu. Apa yang akan mereka lakukan
saat terjadi zilzala (gempa bumi)? Allah SWT dapat mengirimkan apa
saja, kapan saja. Kita mohon kepada Allah SWT agar melindungi kita
semua.
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —–
[1] al-Bukhari, Ahmad, Nomor 38 dalam an-Nawawi’s Forty.


Aksi

Information

2 responses

20 01 2009
mudha

pertamax…

26 01 2009
mazhupa

ya Allah palingkan hati kami…
dari cinta dunia menuju cinta kpd Mu
cinta kpd Rosul Mu…..
cinta kpd Awliya Mu….
cinta kpd apa yy Engkau cinta…
Amin……………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: