Perdamaian Dunia hanya dapat Terwujud dari Kedamaian Bathin Manusia sendiri

9 01 2009

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (qs)
Rabu 19 Nopember 2008
Kolombo, Sri Lanka
Diambil dari www.SufiLive. com

Hadirin sekalian. Saya diminta berbicara tentang “Islam dan
Perdamaian”. Saya berpendapat, Islam itu tidak berbeda dengan
Perdamaian, ataupun Perdamaian berbeda dengan Islam. Jadi, perdamaian
adalah bagian dari Islam. Dan merupakan salah satu prinsip Islam.

Allah SWT berfirman dalam al Qur’an:
Yaa ayyuhannaas – wahai umat manusia. Kami telah menciptakan kalian
dari laki-laki dan perempuan, dan Kami ciptakan kalian dari berbagai
bangsa dan suku agar kalian saling mengenal. Yang terbaik di antara
kalian adalah mereka yang paling bertaqwa.”

Nah, Allah SWT memberitahu hambaNya melalui RasulNya, Penutup Nabi dan
Rasul, Sayyidina Muhammad SAW, “Wahai umat manusia Aku tidak
membeda-bedakan, “Yaa ayyuhan-naas!” Allah SWT tidak berkata, “Wahai kaum Muslimin!” Dia berkata, “Wahai umat manusia!” Itu artinya Allah SWT
menyeru kepada setiap hambaNya tanpa membeda-bedakan: “Wahai kaum
Muslimin, Aku bicara pada kalian .., wahai yang bukan-Muslimin, Aku
bicara pada kalian …, wahai kaum sekuler, Aku bicara pada kalian…,
wahai umat Budha, Aku bicara pada kalian ..”. Tidaklah demikian.

Allah SWT tidak membeda-bedakan siapapun, namun Dia berkata (yang
maksudnya), “Aku telah ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan Aku ciptakan kalian berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku. Tapi Aku tidak ingin kalian hidup dalam komunitas yang
kecil.”

Setiap bangsa terdiri dari ratusan suku. Tidak ada yang Allah SWT sukai,
kecuali persatuan agar manusia hidup bersama baik Muslim dan non-Muslim.
(Tetapi) manusia membuat kesalahan besar. Mereka ingin menjadi hakim
bagi umat manusia. (Padahal) Allah-lah Yang Maha Hakim. Allah Yang
Maha Pencipta adalah Yang Maha Hakim. Kita, manusia bukanlah hakim.
Janganlah menghakimi orang lain. Kita ini umat manusia. Hakimilah diri
kalian dulu. Apakah kalian bahagia dengan diri kalian sendiri?
Suruhlah manusia bertanya pada diri sendiri, apakah mereka bahagia
dengan diri mereka?

Tunjukkan kepada saya satu orang pun yang tidak punya masalah. Itu
artinya orang tidak bahagia dengan dirinya sendiri. Jadi, bagaimana
dia bisa bahagia dengan masyarakatnya? . Allah SWT berfirman jika
kalian ingin bahagia dengan diri kalian, maka saling mengenallah
(belajarlah) satu sama lain. Jangan melewati batas. Ketahuilah batas
kemampuan kalian. Kalian hanyalah makhluk kecil mungil di planet bumi
ini. Dibandingkan bumi, kalian bagaikan gajah dengan semut. Mana yang
lebih besar, gajah atau semut? [hadirin: “gajah ..”]. Salah, mereka
berkata semutlah yang lebih besar. Karena semut memandang dirinya
besar, tetapi (tidak menyadari) bahwa gajah dapat melumatkan semut
dalam sekejap.
Nah, mana yang lebih besar, Allah SWT atau kita? Kita lebih besar atau
Allah SWT yang lebih besar? Tentulah Allah Maha Besar. Pada setiap saat,
Allah dapat melenyapkan kalian, membuat kalian menghilang dari dunia
ini. Sangatlah mudah bagi Allah SWT, Dia tinggal mengambil nyawa
kalian.

Maka, apa yang bisa kalian sombongkan? Kalian kira diri kalian apa?
Kalian menciptakan masalah-masalah, kalian menentang pemerintah.
Kalian menjadi teroris dan melakukan hal-hal yang buruk, dan sebagai
justifikasi kalian mengklaim melakukannya atas nama agama. Kalian
mengambil dari agama namanya saja, tapi meninggalkan intisari
ajarannya.

Allah SWT berfirman, “Aku menciptakan kalian dari laki-laki dan
perempuan, dari berbagai bangsa dan suku agar kalian saling mengenal.”
Agar saling mengenal saudara yang berasal dari budaya yang berbeda;
mengambil apa yang baik bagimu dan meninggalkan apa yang tidak baik.
Kalian mengklaim, “Aku lebih baik dari orang lain.” Ego kalian lah
yang mendorong kalian berkata, “Aku lebih baik dari orang lain!”

Allah SWT tidak suka kezaliman. Itulah mengapa Allah SWT menyebut
Dirinya ar-Rahman ar-Rahim. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Allah SWT tidak menyebut Dirinya Adh-Dhaalim. Kalian tahu apa artinya
adh-Dhaalim? (yaitu) opresor (penindas, atau yang berbuat zalim).
Allah SWT tidak menyebut Dirinya Penindas (Yang Zalim). Allah SWT
menyebut Dirinya Yang Maha Penyayang, Yang Maha Mengampuni – bukan
Yang Maha Menghukum.

Allah SWT berfirman: “Wahai hambaKU, janganlah kalian berputus asa
dari Rahmat-Ku, “datanglah kepada Rahmat-KU, niscaya Aku ampuni
kalian.”

Apakah yang dikatakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih? “Jika
seorang manusia, seorang hamba Allah, mendekati Allah sepanjang tangan
ini, maka Allah mendekatinya satu depa, apabila hambaNya mendekatiNya
berjalan, maka Allah mendekatinya berlari.”

Jadi, kewajiban kita adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT pada
setiap saat dalam hidup kita. Maka, jangan senang bertengkar, karena
Allah SWT tidak menyukai perang dan tidak menyukai pertengkaran.

Allah SWT mencintai perdamaian. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an: “wa in
janahuu lis-silmi fajnah laha
.” Artinya, kalau (musuh kalian) mengajak
berdamai, maka berdamailah bersama mereka. Allah SWT tidak berkata,
“Pergi dan perangilah mereka.” Kalau mereka mengajak berdamai maka
kalian pun harus mau berdamai.

Semua orang sekarang ini ingin melihat perdamaian. Semua orang
berkata, “Aku suka perdamaian.” OK, kalian suka perdamaian dan ingin
ada perdamain di dunia, makanya anda sendiri harus damai. Ubahlah
perilaku kalian. Pertama-tama damailah dulu dengan diri kalian
sendiri.

Apa tandanya seseorang memiliki perdamaian (ketenangan bathin)? (Apa
artinya) sekali-kali boleh marah? Orang kadang-kadang marah. Kalau
marah, itu tandanya kalian tidak damai (tidak tenang). (Namun)
jika kalian benar-benar membenamkan diri kalian dalam Keesaan dari
Kemahacantikkan Allah dan Keesaan-Nya dan Samudra KedamaianNya, dan
Samudra dari Ghaybun Mutlaq – Samudra Yang Tidak Diketahui, berserah
diri pada Dia Yang Esa Yang tidak dapat diketahui dan Dia tidak dapat
diketahui kecuali melalui tanda-tanda- Nya. Barulah kalian dapat
memperbaiki diri kalian.

Sekarang ini orang-orang dan ulama-ulama di seluruh dunia mengklaim
dirinya “Kami adalah para ulama! Kami belajar syari’ah. Kami belajar
hukum Islam. Kami belajar agama modern.” Apapun yang ingin kalian
pelajari, pelajarilah. Tapi pertama-tama terapkanlah dulu pada diri
sendiri dan keluargamu. Apa yang dilakukan para ulama? Mereka
memberikan ceramah-ceramah pada masyarakat, tapi mereka tidak
mengamalkannya pada diri mereka sendiri. Mereka kira mereka tidak
termasuk didalamnya. Salah. Kalian harus mengamalkannya dulu pada diri
kalian. Jika kalian tidak mengamalkannya dulu pada diri sendiri, agar
menjadi tauladan, maka dakwah mengajak orang lain mengikuti kalian,
tidak akan efisien.

Tentu saja ada sedikit orang disana sini yang sudah mengamalkannya
pada diri sendiri. Oleh sebab itulah mereka mampu menjadi magnet,
menarik orang lain untuk mengikuti mereka.

Jadi pesan yang ingin disampaikan disini adalah: kita tidak datang
kesini untuk mengajar. Kita bukanlah guru, tapi kita adalah para
pendengar. Guru yang baik adalah guru yang pandai mendengarkan.
Seorang guru haruslah menjadi pengamat yang baik. Dia mengamati,
melihat dan mendengarkan. Seperti ilmuwan. Ilmuwan selalu mengamati
kalau ia menerapkan suatu formula untuk diuji, dan selalu
mengamatinya. Sekarang di perusahaan-perusaha an farmasi mereka
menggunakan hewan sebagai sarana pengujian obat, kemudian mereka
mengamatinya untuk menentukan apakah suatu produk farmasi dapat
diterapkan kepada manusia.

Jadi, mengamati adalah perilaku yang baik dari seorang guru, begitu
juga mendengarkan. Seorang guru tidak sepatutnya membanggakan dirinya
seperti burung merak dan berkata, “Akulah seorang guru!”.

Rasulullah SAW sangatlah rendah hati. Karena kerendahan-hati beliau
itulah AllahSWT mengundang beliau SAW melakukan Isra Mi’raj, menaikkan
beliau SAW ke hadhiratNya, karena kerendahan hati Rasulullah SAW. Kalau
kalian mengajak orang lain dengan kerendahan hati, orang akan
mengikuti anda, tapi kalau kalian mengajaknya dengan merasa diri
unggul dibanding yang lain, tidak akan ada yang mau mendengar anda.

Salah satu Imam Besar Islam, Imam Malik, yang hidup 90 tahun setelah
masa Rasulullah SAW, pernah berkata, “Di Madinah al-Munawwarah aku
punya 900 guru.” Imam Malik berasal dari al-Maghrib (Marokko), dan di
kawasan Maghrib sekarang penduduknya mengikuti mazhab Maliki. Beliau
ebrkata, “Aku punya 600 guru yang mengajarkanku Syari’ah dan 300 guru
yang mengajarkanku agar menjadi hamba Allah yang tulus dan bertaqwa.”

Jadi, maksudnya disini adalah begitu pentingnya kita memiliki akhlak
yang mulia dan moral yang terpuji. Kelemahan kita adalah: pada cara
kita menghadapi orang lain atau masyarakat di sekitar kita. Anak-anak
minggat meninggalkan orang tuanya, orang tua (suami-istri) pun demikian,
bertengkar satu sama lain, dan segala sesuatunya kacau sekarang ini.

Berarti pesan Islam (yang disampaikan) sekarang ini tidak(belum) lah
damai. Tidak seperti yang disebut orang banyak, “Islam dan
Perdamaian.” Bukan begitu, perdamaian itu justru inti dari Islam.
Termasuk perbuatan dosa dalam Islam jika kalian tidak berlaku damai
atau jika kalian tidak ingin berdamai dengan orang lain. Jika disebut
“min al-furud”, maksudnya hidup damai bersama adalah kewajiban.

Allah SWT berfirman, “Berdebatlah kalian dengan cara yang terbaik dan
saling memahami. Bantahlah mereka dengan cara yang baik. Jadilhum bi
ladzii hiya ahsan.”

Allah SWT tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuan hambaNya.
(Makanya) jangan memandang diri anda lebih baik dari orang lain.
Mengejek orang lain tidaklah mendukung perdamaian, sikap itulah yang
menciptakan banyak masalah. Semoga Allah SWT mengampuni kita semua dan
semoga Allah SWT memberkahi kita dan menurunkan kedamaian ke dunia ini
seperti sebelumnya, dan semoga Allah SWT melenyapkan semua tirani
kezaliman, dan memusnahkan semua perilaku teroris, dan membuat kita
semua hambaNya seperti yang difirmankanNya dalam al-Qur’an: wa tasimuu
bi habiLLah jamiiyyaan, wa laa tufarriquu
. Berpeganglah erat-erat pada
Tali Allah, dan janganlah bercerai berai.” QS. Ali Imran.

Wa min Allah at-taufiq bi-hurmati ‘l-Fatiha


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: