Posisi Tertinggi Kita: Menjadi Hamba

6 01 2009

Shaykh Muhammad Nazim Adil Al Haqqani q

Lefke, Rabu, 29 Rabi Awal 1425

Audhu bi-llahi mina shaitani rajim, Bismillahir Rahmanir Rahim, la haula wala quwatta illa bi-llahi-l `Aliyu-l `Azim…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wa li-llahi-l hamd…Subhanaka, la `ilma lana illa ma `alamtana, Innaka `Alimu Hakim…

Ada 2 tingkatan : yang pertama ( kita menyebutnya seperti itu untuk memahami ) adalah posisi Ketuhanan dan yang kedua adalah posisi hamba-hamba-Nya.

Ketuhanan tidak akan pernah dilimpahkan; bukan pemberian untuk segala ciptaan-Nya, karena tidak akan ada yang mampu menempati posisi itu. Posisi itu hanyalah untuk satu yaitu Dia Yang Maha Esa, Sang Pencipta ! Orang-orang Kristen mengatakan, ‘ Tuhan kami Yesus Kristus’. Itu suatu kesalahan yang besar ; itu tidak bisa diterima. Kesalahan terbesar yang dikatakan bagi Jesus Christ, bahwa dia adalah Tuhan, karena beliau adalah sebuah ciptaan, manusia.

Ketuhanan tidak menerima ‘sharik’ seorang partner / mitra, Allah adalah Tuhan

Jika kalian menyebut : “Yesus Kristus adalah Tuhan” – Bagaimana dengan Yang Pertama ? Tuhan Yang Esa, apakah Dia sedang absen, pensiun atau mempensiunkan diri-Nya ? Ataukah Tuhan sedang menarik Diri agar bisa memberikan Yesus Kristus tahta Ketuhanan ? Apa alasannya ? Apakah Yesus sebagai pewaris-Nya ? Mengapa ? Tuhan sedang lelah atau pensiun ? Tidakkah mereka berpikir seperti itu untuk mengoreksi kepercayaan mereka demi memuja Tuhan Surgawi !

Saya telah bertemu dengan mereka yang telah membaca kitab sucinya, namun mereka tidak pernah memahaminya. Bahkan kitab sucinya berbeda-beda satu sama lain. Mereka tidak pernah mengerti karena tidak ada cahaya dalam hati mereka ! Jika kalian memberi seseorang buku, lalu dia membacanya dalam kegelapan, apa yang bisa mereka pahami?

Tingkatan yang kedua adalah bagi seluruh ciptaan ! stempel ilahiah pada seluruh ciptaan adalah sebagai hamba-hamba. Mereka semua adalah pelayan dan tugasnya adalah melayani. Tak seorangpun yang bisa lebih dari itu ! Setinggi apapun jabatan mereka, tingkatan mereka hanyalah sebagai hamba. Allah Maha Besar.

Tema inilah yang membuat problem bagi orang-orang, mereka yang tidak berakal, orang-orang dari `Ahlu- d Dunya’, manusia awam, mereka yang tidak peduli dengan pesan-pesan surgawi atau posisi-posisi di surga, kaum atheist atau komunis atau materialis. Manusia berkepala kotak, atau manusia generasi kera ( karena mereka mengklaim diri sebagai keturunan kera ) dan mereka menjadikan diri mereka berada di posisi yang lebih dari yang lain.

Ada yang karena kecakapannya mereka berpikir bahwa “ Tingkatan kami berbeda.” Ada yang karena hasil pikiran-pikirannya, mereka menganggap diri di tingkatan yang ‘lebih’ pula. “ Tingkatan kami bukan seperti orang-orang yang biasa.” Orang-orang India mengatakan apa ? Parias? Ada tingkatan terendah di India, mereka mengatakan : “Mereka tidak ada harganya – mereka sama dengan hewan.”

Apa pendapat kalian ketika mengatakan bahwa kalian berbeda dengan orang-orang lain, yang bukan terpelajar, buruh-buruh atau petani. Sekarang aku tanya : “ Apa sebenarnya posisimu ? Ketika kalian menganggap diri kalian “lebih” dari yang lain – apa sebenarnya perbedaan kalian ?”

Di Spanyol mereka membawaku ke sebuah kastil raja yang amat indah dan masyur. Salah satu ruangan dibuka, ada satu tempat duduk mewah dari kayu ( mungkin raja itu gemuk, karena besarnya dua kali lipat dari kursiku ini ). Mereka mengatakan : ” Ini adalah toilet raja.” Apa ? toilet ? raja merasa dirinya begitu hebat, punya tingkatan ini dan itu namun tetap saja mempunyai toilet ? toilet yang membawa raja pada tingkatan aslinya. Siapa sebenarnya yang memasuki toilet – apa tingkatannya ? bila perut kita penuh maka ….

Grandsheikh bercerita tentang paman beliau. Suatu hari ketika beliau duduk di kedai kopi, dan satu orang dari Daghestan ( orang yang amat sombong ) memasang topinya bergaya seperti ini …lalu memasang golok di samping sini..sebuah golok yang terkenal dari Daghestan. Paman Grandshaikh yang berusia lebih dari 100 th mengatakan : ” Anakku, tidakkah kamu butuh ke toilet ?” Begitu mendengar hal ini, orang itupun mulai salah tingkah.

Allah, Yang Maha Kuasa memberi penjelasan bagi mereka “ Kana yakulani taam”…Wahai orang Kristen, kalian mengatakan bahwa tingkat Yesus adalah ketuhanan, padahal dia dan ibunya juga makan dan minum!” Setiap yang makan dan minum pasti membutuhkan toilet. Tuhan butuh ….toilet ? kebodohan macam apa ini ?

Raja itu juga membuat dirinya sendiri lebih dari tingkatannya. Kalian bisa saja menganggap diri sendiri setinggi apapun, namun saat perut mulai berbunyi gurrr, gurrr, gurr, gurrr…lalu kalian akan mengatakan : ” Aku tidak bisa duduk disana ( singgasana ), aku harus turun.” Lalu masuk ke tempat yang paling kotor, toilet.. ( sambil menutup hidungnya karena bau yang tidak sedap ) tamat sudah.

Mereka tidak pernah menggunakan akal, namun menjadikan diri mereka sesuatu yang bukan untuk mereka. Itulah sumber dari jahalet, lalai, tidak peduli. Sumber dari krisis, perang dan perpecahan. Orang Turki mengatakan : “Oh, kami orang Turki, tidak ada yang bisa seperti kami.” Orang-orang Arab mengatakan : “Ahna Arab”. Mereka pikir menjadi Arab adalah kehormatan bagi mereka. Tidak ! Tidak pernah Allah mengatakan : “Ya ayyuhal Arab”, “Ya ayyuhal ladhina Arab”, tapi Allah katakan : “Ya ayyuha-l ladhina amanu!”

Tugas menghamba/ melayani sungguh berat bagi umat manusia. Karena semua ingin menjadi tuan di muka bumi ini. Paling tidak jika tidak menjadi tuhan, lalu menjadi tuan-tuan di dunia ini. Semoga Allah mengampuni kita semua dan menganugerahi pemahaman dan mengikuti Nabi-Nabi yang seluruhnya mengatakan : “Kami adalah hamba-hamba-Nya.” Jika Nabi-Nabi saja mengatakan : Kami adalah hamba-hamba, lalu bagaimana dengan para pengikut Nabi-Nabi ini ? Haruskah mereka mengatakan : “Kami semua adalah tuhan.” Tidak mungkin !

Manusia meninggalkan perintah surgawi dan mengejar ego-ego mereka. Ego yang melambangkan setan, pemberontak pertama dalam Hadirat Ilahi, mereka mengatakan : “Engkau ( Allah swt ) adalah Tuhan di atas, dan aku adalah tuhan di muka bumi.” Namrud juga mengklaim seperti itu, “ Aku tuhan di bumi, Tuhan Ibrahim adalah Tuhan Surgawi.” Itulah karakter buruk yang dicontoh manusia saat ini.

Semoga Allah mengampuni kita dan mengirim seseorang dengan kekuatan untuk mengubah itu semua. Bagi kehormatan untuk manusia paling terhormat dalam Hadirat ilahi, Muhammad saw …


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: