BERANDA

Sultan Awliya Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS

Sultan Awliya Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS


duri0410-002

Mawlana Syaikh Mustafa Mas'ud Haqqani

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Mata Rantai Emas Tarekat Naqshybandi

Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin

Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah “Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [An-Nisaa: 59].  Kalian harus mematuhi Allah SWT, patuh kepada Rasulullah SAW dan para pemimpin kalian.  Dengan mematuhi Rasulullah SAW, berarti kalian mematuhi Allah SWT.  Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah SAW selalu berada dalam hati kalian, dan bila kalian mematuhi guru kalian, berarti kalian mematuhi Rasulullah SAW.

Keberadaan seorang guru sangat penting dan setiap orang harus mempunyai seorang guru.  Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jejak dan jalur yang harus dituju.  Bahkan Rasulullah SAW dan seluruh rasul yang diutus Allah SWT ke dunia ini juga mempunyai guru.  Mereka mempunyai Jibril AS sebagai guru mereka.  Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Rasulullah SAW dan seterusnya kepada Allah SWT .  Jangan berpikir bahwa kalian dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil.  Bila kalian menempuh jalan sendiri, kalian tidak akan mencapai suatu tempat karena jika kalian kehilangan jejak, kalian akan benar-benar tersesat.  Oleh sebab itu gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalan yang kalian tempuh, yaitu orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga dia menjadi berpengalaman.  Dia akan mengantar kalian dan membimbing kalian langsung menuju tujuan kalian tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkan kalian.

Itulah sebabnya mengapa kita mempunyai Mata Rantai Emas yang merupakan mata rantai guru-guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Rasulullah SAW.  Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung.  Kita tidak menginginkan suatu mata rantai yang terputus di suatu tempat.  Suatu pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar terjalin dengan baik.  Jika terdapat sebuah lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai.  Jika mata rantai wali itu terputus, kalian tidak akan sampai kepada Rasulullah SAW.

Beberapa orang mengatakan, “Kami adalah pemeluk Budha, Hindu, Kristen, Judaisme, atau Yoga,” atau suatu bentuk agama dan kepercayaan lainnya.  Jika kalian bertanya kepada mereka, “Siapa guru kalian?”  Mereka akan menjawab, “si Anu dan Anu,”  lalu siapa guru dari si Anu dan Anu tadi?  Sekarang kami bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.  Seseorang mungkin akan menjawab, “Kepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.”  Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu?  Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan guru besar yang meneruskannya?  Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi.

Sebuah pohon yang tidak berakar tidak akan menghasilkan buah.  Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena fondasinya sangat lemah.  Seorang guru tidak boleh “mengaitkan diri,” begitu saja tanpa orang-orang mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut.  Itulah sebabnya guru-guru sufi merupakan guru-guru yang saling terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui para leluhur mereka.  Jika kalian tidak mengetahui leluhur kalian, maka kalian tidak akan terhubung ke mana-mana atau tidak mengetahui ke mana kalian terhubung.

Dari Budha hingga sekarang, bisakah seseorang menghitung jumlah guru-gurunya?  Atau dalam agama Hindu? Bagaimana dengan agama Sikh? Atau filosofi China?  Jelaskan mengenai sekuen guru-guru mereka, atau paling tidak sebutkan nama-nama mereka sejak 3.000 tahun yang lalu.  Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang.  Kalian tidak akan menemukan mata rantai seperti itu, bahkan dalam spiritualitas Kristen atau filosofi Yahudi, kalian hanya bisa menemukannya dalam sufisme.  Dan tanpa mata rantai seperti itu kalian tidak bisa pergi ke mana-mana.  Oleh sebab itu kalian membutuhkan guru sufi untuk mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing.

Ini adalah pengetahuan yang diambil dari hati Sayyidina Muhammad SAW dan dibawakan melalui mata rantai guru-guru tersebut.  Kalian tidak bisa menemukannnya di buku apa pun.

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS — semoga Allah SWT memberkati rahasianya — berkata bahwa beberapa saat setelah Rasulullah SAW dilahirkan, beliau diambil oleh malaikat dari tangan ibunya. Dalam sekejap mereka sampai di Samudra al-Hayy.  Allah SWT mempunyai 99 Atribut, dan masing-masing merupakan Samudra Pengetahuan yang sangat luas sehingga tak seorang pun dapat memahaminya.  Salah satu Samudra itu adalah Samudra al-Hayy, Yang Maha Hidup.  Siapa pun yang mengetahui rahasia Nama itu, maka dia tidak akan mati.  Dia akan hidup selamanya–bukan dia sendiri, melainkan bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi dalam hatinya.  Ketika kalian berenang dalam Atribut Nama Ilahi tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada dalam hati setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang.  Itulah tempat di mana Rasulullah SAW diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan hatinya dalam “Ma’ul Hayat,” Air Kehidupan.  Segera setelah mereka meletakkannya dalam Air Kehidupan, beliau dengan segera memiliki dan dihiasi dengan “An-Nur al-Ilahi” Cahaya Ilahi.  Dan setelah beliau dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi hijab yang tersisa.  Selanjutnya Rasulullah SAW dihiasi dengan Samudra Kekuatan Ilahi, “Bahrul Qudra.”

Oleh sebab itu ketika keluar dari Ma’ul Hayat, Rasulullah SAW menerima tiga Atribut, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi.  Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi.  Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang.  Itulah arti dari ayat, “Wa’lamuu anna fikum rasuulullah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW ada bersamamu, di antara kalian dan dalam dirimu” [al-Hujurat: 7], karena beliau telah dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut.  Itulah sebabnya Rasulullah SAW dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian.  Allah SWT memberinya kekuatan itu.

Yang ketiga, Rasulullah SAW menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi.  Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama.  Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudra,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa AS namun tidak diberikan oleh Allah SWT.  Nabi Musa AS meminta agar Allah SWT memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” dan jadilah dia, Allah SWT berkata, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu.  Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.”  Dan ketika Allah SWT mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa AS pun jatuh pingsan [al-A’raf: 143].  Itulah sebabnya Allah SWT  mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk nabi terakhir.

Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan “Jadilah!” Maka jadilah dia—tanpa perlu meminta izin kepada Allah SWT karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu.  Rasulullah SAW bersabda, “Maa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,” “Apa pun yang Allah SWT berikan ke dalam hatiku, telah kuberikan pula ke dalam hati Abu Bakar ash-Shiddiq RA” (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar RA menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi RA, Salman RA kepada Qasim QS, Qasim QS kepada Ja’far AS, Ja’far AS kepada Tayfur (Bistami) QS, Tayfur QS kepada Sayyidina Khidir AS—dan rahasia itu sampai kepada Grandsyaikh dan Grandsyaikh meneruskannya kepada Mawlana Syaikh Nazim QS.

Bila Allah SWT memberikan sesuatu, Dia tidak akan mengambilnya kembali.  Itulah artinya Maha Pemurah.  Ketika kalian memberikan sesuatu dan tidak mengambilnya kembali serta tidak menyesal karena telah memberikannya, berarti kalian mempunyai sifat pemurah atau dermawan.  Allah SWT memberi kekuatan kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan “Jadilah!” kepada sesuatu maka jadilah dia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk hari akhir, untuk membawa semua orang ke surga.  Rasulullah SAW tidak akan meninggalkan satu orang pun.  Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke surga.  Itulah Nabi kita.

Setelah ketiga Atribut tersebut, datanglah lima tingkatan hati.  Ketika Allah SWT menyandangkan beliau, hati Rasulullah SAW tiba-tiba diberkati dengan Kekuatan Ilahi dari lima tingkatan hati, dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hanya berlangsung dalam waktu singkat.  Tingkat pertama adalah Maqam Hati, kemudian Maqam Rahasia, lalu Maqam Rahasia dari Rahasia, berikutnya Maqam Yang Tersembunyi dan terakhir Maqam Yang Paling Tersembunyi.  Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS berkata bahwa, setelah Rasulullah SAW dihiasi dengan semua tingkat ini, segala dosa dan perilaku buruk yang berasal dari umatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah umat Rasulullah SAW—yang menurut ajaran sufi jumlahnya mencapai 400 milyar—bagi Rasulullah SAW itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan sebilas air.  Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada umatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi.

Ini adalah umat terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Afdhalul umma akhyarul umma akhirul umma,” “Umat yang paling baik, umat yang paling disukai adalah umat yang terakhir.”  Kalian semua adalah umat terakhir.  Menurut Grandsyaikh, dunia ini tidak akan berusia lebih dari 50 tahun tahun lagi.  Setelah 50 tahun sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya.  Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian.  Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang.  Melalui rahmat yang telah disandangkan kepada Rasulullah SAW, seluruh dosa manusia akan dihapuskan.  Grandsyaikh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 milyar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah SWT yang meliputi alam semesta dan makhluknya.  Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah SAW, seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuh kalian.

Jangan berpikir bahwa Allah SWT menciptakan makhluk-Nya dan meninggalkannya begitu saja.  Allah SWT akan menyandangkan para awliya-Nya dan menghiasi Rasulullah SAW dengan Atribut dan Cahaya-Nya untuk menghindarkan orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam yang tinggi di hari kemudian.

Ketika Salman al-Farisi RA, salah satu wali terbesar yang muncul setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda di luar kebiasaan yang muncul di gugusan bintang, yang menandakan bahwa rasul terakhir akan muncul.  Beliau tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini.  Untuk pergi ke Mekkah, beliau menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan beliau mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah SAW.  Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh.  Lihatlah perjalanan para awliya yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW dibawa ke dunia ini oleh ibunya, Sayyidina Salman al-Farisi RA mendengar kegembiraan binatang yang berteriak, “Allahu Akbar!” semua orang di alam semesta ini bergembira, termasuk binatang, pepohonan dan bintang, karena rasul terakhir telah datang dan semuanya mengetahui bahwa Allah SWT akan menghiasi beliau dengan Cahaya Ilahi-Nya—semuanya  tahu dan bergembira, kecuali kita umat manusia.  Umat manusia iri terhadap Rasulullah SAW dan berkata, “Mengapa Allah SWT memilihnya?”

Grandsyaikh berkata, “Saya berbicara dari Samudra Pengetahuan yang akan dibuka ketika Imam Mahdi AS telah muncul.  Luasnya Pengetahuan yang Saya buka bagaikan cahaya yang melalui lubang jarum.”  Jika Mawlana berbicara seolah-olah dari sebuah lubang jarum, maka apa yang kita bicarakan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan realitas sesungguhnya.  Apa yang akan datang adalah sesuatu yang bisa membuat kalian marah.  Ini adalah keterangan mengenai pernyataan Sayyidina Abu Hurayrah RA dalam hadis, “Shabba Rasulullah SAW fii qalbi wi’aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi’a hadzal bul’uum,” “Rasulullah SAW telah meletakkan dua jenis ilmu pengetahuan dalam hatiku.  Satu pengetahuan telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila pengetahuan yang lainnya kukatakan, mereka akan memotong leherku” (Bukhari).  Apa yang Grandsyaikh katakan tergolong pengetahuan jenis kedua—sesuatu yang berada di luar kebiasaan dan akan disebarkan di masa Imam Mahdi AS nanti.

Grandsyaikh berkata bahwa pengetahuan ini telah dibuka dalam hati Rasulullah SAW sejak masa kelahirannya dan hati beliau bagaikan segelas air, transparan di segala sisi.  Hatinya begitu transparan sehingga ke mana pun beliau memandang, beliau mendapatkan pengetahuan dan hikmah dan oleh karenanya beliau berbicara berdasarkan ilmu dan hikmah tersebut.

Grandsyaikh berkata bahwa ketika jiwa Rasulullah SAW diambil dari jasadnya oleh para malaikat dan dipersembahkan kepada Hadirat Ilahi, ibunya mengira bayinya telah meninggal karena tubuhnya diam, tidak bergerak selama satu jam penuh.  Tetapi Jibril AS segera datang dan berkata kepadanya, “Jangan takut, dan jangan ceritakan hal ini kepada seseorang, biarkan saja.  Allah SWT telah mengambil jiwanya untuk membersihkannya dan untuk membukakan Atribut dari 99 Nama kepadanya—semuanya adalah Samudra dari Nama-Nama Allah SWT.  (Menurut agama Islam, Allah SWT mempunyai 99 Nama, setiap Nama mencakup suatu Atribut Ilahi dan setiap Atribut merupakan sebuah Samudra Pengetahuan yang kedalamannya tidak diketahui seorang pun).

Allah SWT membasuh hati Rasulullah SAW dengan “Bismillah al-‘azhim,” Nama yang Terbesar.  Sampai sekarang setiap wali mencoba untuk mengetahui Nama Allah SWT yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Rasulullah SAW sendiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam hatinya.  Semua hijab dihilangkan dari hati Rasulullah SAW tatkala Allah SWT membasuh hatinya dengan air sungai Khawtsar, sebuah sungai di surga yang diberikan kepada Rasulullah SAW manakala Allah SWT berfirman, “Innaa a’thaynaakal Khawtsar” [al-Khawtsar: 1].  Jika seseorang mandi di dalamnya, hatinya tidak akan pernah mati.  Inilah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Ana hayyun thariyyun fii qabri,” “Aku hidup dan tetap segar dalam kuburku” (Suyuti).

Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT seolah-oleh beliau melihat-Nya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan umatku? Apakah Engkau akan membasuh umatku dengan air dari sungai ini?  Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri.  Aku harus bersama umatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.”  Menurut Rasulullah SAW, ketika beliau meminta hal ini kepada Allah SWT, Allah SWT membasuh seluruh umatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu.  Allah SWT membasuh dan membersihkan hati mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki Rasulullah SAW, kemudian Allah SWT menyerahkan mereka kepadanya, “Aku menyerahkan umatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, rendah hati, saling mencintai dan menghormati sesamanya.  Apakah engkau menerimanya?”  Rasulullah SAW yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, “Aku menerimanya.”  Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah SWT menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini.  Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?”  Allah SWT menjawab, “Lupakan saja, cahaya tidak akan musnah dari dalam hati mereka.  Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti lap, dan Aku akan memberimu awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan hati mereka.”

Kita semua adalah umat yang diampuni.  Allah SWT telah mempercayakan kita kepada Rasulullah SAW dengan Kemurahan-Nya.  Kalian akan mendengar lebih banyak lagi pelajaran ini.  Namun tetap saja apa yang kita bicarakan ini hanyalah hal-hal yang sepele.  Ketika Grandsyaikh memberi izin untuk berbicara mengenai pengetahuan itu, pelajaran tersebut bukan untuk didengar oleh semua orang.  Mereka yang mendengar adalah orang-orang yang istimewa dan topik ini hanya bisa dibuka dengan izin Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS.

Setelah Rasulullah SAW menerima umatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah SWT menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah SAW meminta beberapa pembantu.   Dengan segera Allah SWT memberinya 7.007 wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan umatnya.  Di antara mereka terdapat 313 wali yang tingkatannya tinggi.  Dan di antara mereka terdapat 40 guru besar dari Mata Rantai Emas, jalan kita menuju Rasulullah SAW.  Keempat puluh guru besar kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hati mereka.  Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu guru besar tersebut—guru besar terakhir dalam mata rantai ini, guru yang keempat puluh.

Apakah Khawtsar itu?  Menurut riwayat yang tertulis, Khawtsar adalah nama sebuah sungai di surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan sufistik, Khawtsar adalah nama salah satu Grandsyaikh.  Grandsyaikh itu, dengan air di mana Allah SWT membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Rasulullah SAW setiap malam.  Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu guru besar yang agung dalam Mata Rantai Emas ini.

Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS bertanya, “Mengapa Allah SWT memberi kenabian kepada Rasulullah SAW?  Apakah hanya untuk dirinya sendiri?”  Grandsyaikh berkata, “Tidak!”  Allah SWT telah memberinya kekuatan dan menghiasinya dengan Atribut dari ke-99 Nama dan semua cahaya ini untuk umatnya juga, agar Rasulullah SAW dapat menyandangkan kita semua dengan cahaya dan atribut yang sama, beliau membagi semua atribut itu kepada kita.  Allah SWT telah berfirman kepada Rasulullah SAW, “Wahai rasul-Ku yang tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi—Aku ingin setiap orang dari umat ini menjadi seperti dirimu.  Jika mereka tidak seperti dirimu, Aku tidak akan menerimamu sebagai rasul.”  Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Rasulullah SAW bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari umatnya agar seperti beliau.  Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan menyandangkan diri kita dengan semua yang telah didapatkannya, dan untuk menghadirkan kita kepada Allah SWT dalam keadaan suci seperti dirinya.  Inilah tugas beliau.

Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS berkata, “Dalam setiap kedipan mata, jarak antara Rasulullah SAW dengan Hadirat Ilahi semakin mendekat dua kali lipat, “Yataraqqa mitslaini mitslain,” dalam sekuen geometrik yang berkembang, setiap kedipan mata meningkatkan jarak sebelumnya dua kali lipat.  Beliau mengalami kemajuan, dan secara bersamaan beliau juga membawa umatnya—tanpa diskriminasi dan perbedaan.  Umat ini adalah umat dari para hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak!  Tidak ada perbedaan antara Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, maupun Hindu!  Mereka semua adalah hamba di hadapan Allah SWT, dan Rasulullah SAW melihat mereka sebagai seorang manusia dan membawanya bersamanya.

Pengetahuan ini akan dibuka pada masa Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.  Sekarang, ini hanyalah aroma dari apa yang akan terjadi kemudian.  Ketika orang-orang berbicara kepada kalian tentang sufisme, apa yang mereka katakan?  Mereka hanya anak-anak bila dikaitkan dengan Mata Rantai Emas yang mendapat pengetahuan dari hati Rasulullah SAW.  Apa yang akan dibuka nanti akan menyepelekan apa yang dikatakan oleh orang yang mengaku sebagai guru sufi itu.  Mereka akan menyadari bahwa mereka hanyalah anak-anak.   Pengetahuan mereka bukan apa-apa.  Itulah sebabnya Sayyidina Muhyiddin Ibnu al-‘Arabi ?, setelah menulis al-Futuhat al-Makkiya berkata, “Aku tidak mengerti apa yang Aku tulis.”  Beliau terbiasa tidur dengan sebuah pena di sisinya, ketika beliau bangun, beliau mendapati bahwa pena itu telah menulis sesuatu.  Demikian pula ketika beliau menulis, “Fusus al-Hikam” dan semua buku yang lainnya.  Walaupun beliau tidak mengerti, sekarang mereka malah “menjelaskan” apa yang sebenarnya tidak mereka pahami.  Apa yang akan kalian pahami dari yang mereka katakan?  Derajat pengetahuan yang tinggi dalam sufisme tidak bisa dibuka begitu saja, walaupun kalian berpikir telah melihatnya.  Jika kalian mempunyai televisi, kalian dapat melihat sesuatu tetapi tidak bisa merasakannya.  Dalam sufisme, jika kalian tidak bisa merasakan dan mengalami sendiri kejadian itu, kalian tidak bisa meraih tingkatan dari mana pengetahuan itu digambarkan.

Sufisme adalah “dzawq,” cita rasa.  Kalian mempunyai berbagai jenis makanan.  Orang-orang mengambil makanan terbaik dan mereka mencoba untuk merasakannya di sini (menunjuk ke mulut) sampai ke sini (menunjuk pangkal kerongkongan).  Setelah kedua tempat itu, semua makanan akan sama saja.  Sama halnya ketika kalian menonton televisi, seolah-olah itu berlangsung “dari sini ke sini.”  Kalian tidak mencicipi atau merasakan sesuatu.  Jika kalian tidak bisa merasakannya, itu bukan sufisme, tetapi pantulan cermin dari sufisme atau sebuah bayangan.  Dan semua “Syaikh” ini—sesungguhnya mereka tidak bisa dipanggil dengan panggilan itu—karena seorang Syaikh derajatnya tinggi—semua orang yang menerangkan sufisme itu tidak merasakan dan mencicipi.  Padalah kedua hal itu sangat penting dalam sufisme.

Sekarang kalian akan berkata, “Anda juga berbicara seperti mereka.  Mengapa Anda tidak mencicipi dan merasakan?”  Saya akan mengatakan kepada kalian bahwa kalian belum diizinkan untuk bisa merasakannya.  Ini akan terjadi pada masa Imam Mahdi AS.  Kalau tidak, dunia ini tidak bisa menampung kalian lagi.  Jika kalian memberi anak kecil sebuah permen, dia akan menukarnya dengan berlian dan dia akan kehilangan berlian itu.  Jika kalian diberikan pengetahuan seperti itu, kalian akan menyia-nyiakannya tanpa dukungan dari Imam Mahdi AS yang akan segera datang.  Dukungan itu sangat dibutuhkan.  Tanpa dukungan itu, kalian tidak akan mempunyai pintu untuk bisa merasakan.

Seorang pemimpin sufi harus memiliki ‘ilmul yaqin, ‘aynul yaqin, haqqul yaqin—pengetahuan tentang kepastian, kepastian tentang pengelihatan, dan hakikat tentang kepastian.

Pertama adalah “pengetahuan tentang kepastian,” yang merupakan keperluan untuk mengetahui  bahwa ada pengetahuan seperti itu dan untuk mendengar tentang hal itu.  Ketika kalian mendengarnya, kalian pergi ke tingkat kedua, tetapi pertama kalian harus mendengarnya.  Itulah sebabnya, Allah SWT dalam al-Qur’an sebagaimana semua guru sufi dari Jalaluddin Rumi QS ke Ibnu al-‘Arabi QS, Hallaj QS, Abu Yazid al-Bistami QS menyebutkan bahwa mendengar adalah hal yang pertama.  Pengetahuan tidak datang dengan melihat terlebih dahulu tetapi dari mendengar seorang guru, bahkan termasuk orang yang buta.  Di lain pihak orang yang tuli, tidak bisa memulai untuk mendapatkan pengetahuan.  Ketika malaikat Jibril AS mendatangi Rasulullah SAW, hal pertama yang dikatakannya adalah “Iqra”, bacalah, kemudian Rasulullah SAW mendengarnya.  Itulah sebabnya sufisme memberi perintah yang dipenuhi dengan mendengarnya bukan dengan melihatnya.

Tingkat pertama ini, tidak diraih dengan mendengar dan tidak merawatnya, tetapi dengan mendengar, menerima, dan memenuhinya dengan tindakan!  Jika Syaikh kalian mengatakan untuk pergi ke Chicago, memanjat Search Tower, dan melompat ke bawah, dan kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam pengetahuan sufi.  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian harus patuh, dan kepatuhan berasal dari pendengaran, jika kalian melakukannya, barulah kalian bisa menuju ke tingkat kedua.

Suatu ketika, Grand-Grandsyaikh berkata, dalam pertemuan antara guru-guru besar, ketika Grandsyaikh sedang dalam perjalanan untuk bertemu mereka—ketika itu beliau masih muda—ketika mereka duduk di tempat terpencil di luar kota.  “Anakku ‘Abdullah QS telah mencapai tingkat di mana orang belum pernah mencapainya—Aku pun tidak, begitu pula dengan seluruh guru dalam Mata Rantai Emas.  Dia baru berusia 18 tahun sedangkan Aku 60, tetapi dia telah mencapai level yang lebih tinggi dariku dan seluruh guru lainnya dalam Mata Rantai Emas yang telah meninggal dunia.  Jika Aku mengirimkan seorang anak berusia 7 tahun untuk berkata kepadanya, ‘Syaikhmu menyuruhmu untuk segera pergi haji ke Mekkah,’ dari Daghestan, kota di tengah wilayah Rusia, dia akan segera berpikir, tanpa datang kepadaku untuk meminta konfirmasi apakah ini benar atau tidak, ‘Siapa yang membuat anak itu berbicara?  Syaikhku telah mengetahui sebelum Aku mengetahuinya.  Kalau tidak, bagaimana Aku menerimanya sebagai Syaikhku tetapi masih mengganggap beliau tidak mengetahui segalanya?  Jika Syaikhku tidak mengetahuinya, lalu siapa yang mengetahuinya?’  Dengan segera dia akan mempercayai anak itu, dan tanpa pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibu atau istrinya bahwa dia akan naik haji, tanpa membawa pakaian, uang atau makanan, beliau akan langsung menuju Mekkah yang berjarak 10.000 mil, berjalan tanpa bertanya apa-apa.  Dia akan mengetahui bahwa perintah itu berasal dariku dan dengan mudah akan  mengubah arah perjalanannya.”

Ini adalah “Wahdatul af’al, penyatuan segala tindakan atau perbuatan atau ucapan—kalian harus melihat segala sesuatu berasal dari Allah SWT.  Ini adalah tingkat tinggi dalam pengetahuan sufi.  Kalian tidak bisa melihat orang melakukan suatu perbuatan lagi, tetapi kalian harus menganggapnya sebagai suatu alat di tangan Tuhan.  Tinggalkan anak-anak—jika Syaikh Nazim QS mendatangi kalian dan berkata, “Pergilah ke Mekah.” Kalian akan berkata, “Baiklah Syaikh, Aku akan membeli tiket, Aku akan lihat apakah istriku mengizinkanku untuk pergi…”  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian tidak diizinkan untuk melakukan semua hal ini.  Kalian harus segera pergi.

Tingkat kedua adalah ‘aynul yaqin, pengelihatan yang benar.  Pada saat itu kalian akan melihat segala yang berada di sekitar kalian, tetapi tanpa perasaan.  Itu akan seperti layar yang terangkat.  Hanya di tingkat ketiga, haqqul yaqin, realitas dari kebenaran—kalian berada di sana dan mengalami kejadian itu.  Jika Grandsyaikh berkata tentang apa yang telah kita bicarakan sebelumnya mengenai Rasulullah SAW, bagaimana beliau dibawa dan hatinya dibersihkan, ketika mendengar hal ini, kalian akan hidup di masa itu seolah-olah kalian hidup dan merasakan semuanya saat itu.  Jika Mawlana Syaikh Nazim QS berbicara mengenai kejadian yang berlangsung 500 tahun lalu, misalnya, kalian akan hidup seolah-olah kalian hidup di masa itu, kalian mendengar, melihat dan merasakan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan, seolah-olah kalian adalah salah satu dari mereka.

Ini adalah cita rasa sufi dan pengetahuan dari Tarekat Naqsybandi yang menghubungkan para pencari kepada Mata Rantai Emas.  Ini tidak bisa dibuka sampai masa Imam Mahdi AS, kecuali, untuk beberapa pengikut yang istimewa, Mawlana Syaikh Nazim QS membukakannya dengan seizin Rasulullah SAW.  Hal itu tidak biasa bagi semua orang.  Yang lain harus menunggu dukungan dari pedang Imam Mahdi AS untuk memasuki tingkatan itu, kalau tidak orang akan memotong lehernya karena membicarakan apa yang mereka lihat.

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syaikh tidak akan membuat kalian berbeda dengan orang lain dan ini adalah tarekat yang sempurna, kalian melihat Syaikh yang memiliki segala kekuatan ini, merasakan segala hal dan hidup dalam semua peristiwa, dan melukiskannya, namun demikian beliau tetap berperilaku sebagai orang yang biasa.  Dalam aliran sufi yang lain, mereka tidak bisa mengontrol diri mereka, mereka baru mulai bicara dan langsung ditolak oleh orang-orang.  Oleh sebab itu Syaikh tidak pernah menerima untuk membuka pengetahuan untuk kalian jika kalian belum siap dan jika beliau melihat bahwa kalian akan memperlihatkan apa yang diberikannya pada kalian kepada masyarakat umum.  Itulah sebabnya mengapa belum ada izin agar pintu itu dibuka.

Wa min Allah at tawfiq al-Fatiha