Shalat Khusyuk

6 04 2009

Assalmu’alaikum wr wb
A’udzubillahiminashaiythonirrojiim,
Bismillahirrohmanirrohiim,
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa’ala ali sayyidina Muhammad.

:” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Q.S.Al-Maa’uun 4-5).

Orang yang lalai disini adalah orang-orang yang tidak khusyuk dalam sholatnya.
Saya tidak akan memberi komentar mengenai khusyuk dari sisi saya
sendiri, karena dalam diri saya masih banyak kesalahan dan Ego, namun
akan mencoba sharing dari pengetahuan yang didapat dari para Ulama.
Saya ambil sedikit dari kitab tafsir Alquran Al-Iklil mengenai
Bismillahirrohmanirrohim, imam syafi-i berkata:” Tidak sah sholat
tanpa diawali niat terlebih dahulu sebelum sholat…..”. pembacaan
niat ini adalah pengukuhan niat ibadah, dan selama niat inilah kita
dituntun untuk bisa menyampaikan syukur kita dalam ibadah, syukur
karena Allah maha Pengasih lagi maha Penyayang sehingga diberi
kesempatan untuk menghadap Allah(sholat).  Niat ibadah dalam rasa
syukur inilah yang akan mendatangkan rahmat Allah sehingga dalam
sholat, kita bisa diberi kekusyukan.
Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra.:
Bahwa Nabi saw. mengerjakan salat sehingga kedua telapak kaki beliau
membengkak, lalu beliau  ditanya: Apakah engkau masih membebankan
dirimu dengan beribadah seperti padahal Allah telah mengampuni dosamu
yang terdahulu dan yang akan datang? Kemudian beliau menjawab: Apakah
aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur Nomor hadis dalam
kitab Sahih Muslim 5044

Maka sebelum sholat dianjurkan untuk menenangkan diri terlebih
dahulu untuk kemudian membaca niat, Urutannya ialah :
à 1. Ta’awudzà2.Basmalahà3. QS.Annasà4.Niat sholat.(jangan membaca
basmalah kemudian niat, basmallah harus dilanjutkan suratul Quran,
jika ingin mempercepat maka baca ta’awudz kemudian langsung saja
membaca niat}.

Khusyuk itu bukan dari kita, namun itu dari Allah SWT”.

Dari Kitab FafiruilaAllah: Syarat Khusyuk ada 5 perkara, dan 5 perkara
ini harus dipenuhi kesemuanya, 5 perkara ini adalah sebagai berikut:
1.    Sholat dilakukan tepat waktu
2.    Sholat tepat waktu dilakukan secara Istiqomah ( continue / berkesinambungan)
3.    Rutin melakukan Puasa Sunah.
4.    Menjauhi kemaksiatan
5.    Makan makanan yang halal.

Yang pertama-tama dipertanyakan terhadap seorang hamba pada hari
kiamat dari amal perbuatannya  adalah tentang shalatnya. Apabila
shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya
buruk maka dia kecewa dan merugi (Hr.Annasa’i dan Attirmidzi)

Beberapa nasihat yang saya rangkum dari ahlul hikmah

:” setelah selesai sholat janganlah langsung beranjak pergi, duduklah
sebentar untuk berdzikir dan berdo’a,  karena jika sesudah sholat
beranjak pergi tanpa dzikir dan do’a maka baginya sama hal dengan
kera”.

:” jika jualan rokok tidak laku, maka kamu bisa jualan beras, demikian
pula jika kamu sholat, maka berdikirlah sesudahnya, karena hal itu
untuk menutup kekurangan atas sholatmu.”

Tiba-tiba saya ingin menulis mengenai bai’at, padahal pokoknya
mengenai sholat dan khusyuk. Namun apalah daya, jika saya tidak
menulisnya, maka tidak tenang rasanya hati ini.
Bai’at adalah kesempurnaan beragama, karena para sahabat juga
berbai’at kepada Rosululloh SAW.
Sekarang ini  sepeninggal Rosululloh SAW, Bai’at tetap dilakukan
kepada pengganti Baginda Nabi Muhammad SAW yaitu para ulama terutama
yang mursyid, yang memiliki jalur dari guru-guru menuju Baginda Nabi
SAW.
Dari abu abdurrahman bin auf bin malik ra, ia berkata; Kami sedang
duduk-duduk bersama rasulullah saw, waktu itu kira-kira berjumlah
sembilan , delapan atau tujuh orang , kemudia beliau bertanya”Apakah
kalian tidak akan berbai’at  (berjanji setia) kepada rasulullah ? ;
padahal kami baru saja berbai’at ; maka kami menjawab; bukankah kami
telah berbaiat kepada engkau wahai rasulullah ?? beliau bertanya lagi;
“apakah kalian tidak akan berbaiat kepada rasulullah saw ? kemudian
kami mengulurkan tangan  dan berkata; kami telah berbaiat kepada
engkau, maka dalam hal apakah kami harus berbaiat ? beliau menjawab ;
kalian harus menyembah Alloh, Zat yang maha esa dan kalian tidak boleh
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, Salat lima waktu, serta harus
senantiasa mendengarkan dan mentaati segala perintah-Nya, dan beliau
berbisik “Janganlah kalian meminta-minta sesuatu pun kepada sesama
manusia” setelah itu , sungguh saya telah menyaksikan , bahwa salah
seorang di antarakemlompok ini, ada yang cambuknya terjatuh dan ia
tidak mau meminta kepada seseorang untuk mengambilkan cambuknya  (HR
Muslim ).

Maka jika ingin bersungguh-sungguh dalam beragama, lakukanlah sholat dan bai’at.
Siapa saja yang membaca tulisan ini insyaAllah mengetahui Maulana
syech Nazim & Maulana Syech Hisyam, maka beruntunglah yang sudah
melakukan bai’at kepadanya.
Cintailah beliau, jika sudah mencintai, akan mudah untuk mengikuti.
Bertemunya cinta kepada Rosululloh SAW adalah cinta  kepada para pewarisnya.

Ditanah jawa ini banyak para wali, jika cinta kita terbalas oleh MSN /
MSH, maka akan sangat mudahlah kita bertemu dengan para wali-wali
tersebut.
Para wali ditanah jawa ini melakukan pertemuan setiap bulan sekali,
jadi sebenarnya para wali itu tetap satu, tidak ada wali kanan ataupun
wali kiri.

Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram.

”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok. Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya.

Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.

Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun. (Agus Fathuddin Yusuf-46)

Billahi Taufik…Al-Fatikhah.
Wassalamu’alaikum wr wb








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.